Renungan – Februari 2016

Pekan Praspakah I

Ul 26: 4-10; Rm 10: 8-13

Luk 4: 1-13

Lepaskanlah!

Ketika berhadapan dengan dunia, manusia punya sejuta tawaran dan menjanjikan kesempatan besar. Tidak jarang pula hal tersebut membuat manusia melekat terhadap sesuatu hingga ke tahap tidak logis. Banyak hal membuat manusia tidak bisa lepas darinya, misalnya teknologi. Tanpa disadari dunia merancang sebuah keadaan yang membuat manusia mau tidak mau harus menggunakan tekonologi. Buat mereka yang bijaksana, teknologi akan digunakan sesuai porsinya. Tetapi tidak buat mereka yang tidak bisa mengontrolnya, teknologi dipakai semaunya terkadang lebih dari porsinya. Atau misalnya profesi atau pekerjaan, tanpa disadari keadaan merancang manusia tergantung pada pekerjaan yang mendorong punya penghasilan tertentu. Beberapa orang secara bijak menanggapi hal ini sebagai sebuah bagian dari hidup. Akan tetapi, beberapa orang justru menganggap ini sebagai hidup mereka. Dua contoh tersebut adalah contoh kecil dari bentuk kelekatan yang ada, tentu masih banyak lagi.

Kelekatan ini tanpa disadari adalah godaan-godaan yang hadir bagi manusia. Bukan berarti tidak boleh menggunakan atau memiliki hal tertentu. Akan tetapi, bila melekat dan menjadi yang utama di dalam hidup manusia, hal tersebut perlu diwaspadai. Dengan melekatkan diri manusia pada hal-hal tersebut, manusia menempatkan hal-hal tersebut di atas harga dirinya. Bahkan, dalam tahap lebih ekstrem, manusia tidak bisa hidup tanpa hal-hal tersebut. Jika hal ini sampai terjadi, artinya orang-orang tersebut melupakan Allah sang pemberi kehidupan. Atau lebih pasti lagi, mereka melupakan bahwa hanya Allah yang berkuasa atas kehidupan manusia. Contoh sederhana yang dapat dilihat adalah beberapa orang tidak dapat melepaskan gadgetnya paling lama 2 jam untuk merayakan perayaan ekaristi. Atau contoh lain, beberapa orang sulit untuk meninggalkan kesibukannya paling lama 5 menit untuk berdoa atau bahkan ke Gereja.

Jika kita merenungkan kisah yang diceritakan Injil hari ini, maka Yesus berada di kondisi yang sama dengan kondisi kita saat ini. Kondisi seorang manusia yang sedang berpuasa 40 hari di padang gurun. Kalau kita mau membayangkan, padang gurun selalu berada dalam kondisi cuaca yang panas. Kondisi Yesus pasti sangat lapar dan haus. Dengan keadaan seperti ini, Yesus harus berhadapan dengan Iblis yang menawarkan keadaan lebih baik. Bukan tidak mungkin bagi Yesus, karena Ia mampu saja membuat mukjizat yang Ia inginkan. Sama seperti kita manusia, memiliki potensi untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Akan tetapi, Yesus menyadari dan mengingat ada hal yang lebih luhur dan lebih tinggi, yakni kehendak Allah Bapa di surga. Kesadaran ini yang mendorong Yesus untuk tidak menerima tawaran menggiurkan iblis. Yesus adalah teladan manusia yang mampu menolak kelekatan pada hal-hal duniawi dan lebih melihat kehendak Allah yang lebih besar.

Di pekan prapaska I ini, kita semua diajak untuk merenungkan seberapa lekat kita terhadap hal-hal duniawi. Apakah kelekatan-kelekatan ini mendekatkan kita kepada Tuhan? atau justru menjauhkan kita kepada Tuhan? Masa prapaska ini menjadi masa yang tepat untuk kita belajar melihat dan mendengarkan kehendak Allah yang lebih besar dibandingkan hal-hal duniawi. Berpuasa akhirnya tidak sekedar menahan haus dan lapar, tetapi bisa menjadi sarana untuk kita belajar melepaskan hal-hal duniawi yang melekat. Tujuannya adalah tercapainya kemuliaan Allah yang lebih besar.

Pekan Prapaskah II

Kej 15: 5-12, 17-18; Flp 3: 17- 4:1 (Flp 3: 20- 4:1)

Luk 9: 28b-36

Ketika Tidak Ada Masa Depan

Ketika berbicara masa depan kita tidak akan pernah tahu pasti apa yang akan terjadi. Orang bisa merencanakan, memperhitungkan, dan merancang masa depan, akan tetapi tetap saja ketidakpastian masa depan menjadi hantu. Masa depan bukan sesuatu yang bisa diprediksi atau diperhitungkan, cenderung misterius dan menghantui. Karena sifatnya yang menghantui dan misterius, maka beberapa orang menjadi khawatir. Orang-orang yang khawatir bahkan takut justru mencoba untuk mencari alternatif mengetahui masa depannya. Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari mencari orang pintar, peramal, atau cenayang untuk  mengetahui gambaran masa depan yang akan mereka hadapi.

Hal ini dihadapi oleh para Murid ketika mereka diminta naik ke puncak gunung. Sesuatu ang tidak pasti, bahkan gelap, dan juga tampak berat. Keberadaan ini membuat para murid bertanya-tanya atau mungkin meragukan, apa yang ingin Yesus minta untuk mereka lakukan? Mereka ke puncak gunung dengan segudang pertanyaan. Mereka ke puncak gunung untuk mencari berbagai jawaban. Kemudian, di puncak gunung itu pula, sebuah kemuliaan ditampakkan dan ditampilkan di hadapan mereka. Mereka mendapat sebuah hadiah pernyataan kemuliaan Allah kepada Putera-Nya. Pernyataan ini menjadi sebuah jawaban atas segala pertanyaan ketika mereka diajak naik ke puncak. Mereka sebagai murid menunjukkan sikap untuk terus naik dan mengikuti Yesus.

Inilah sikap yang dicari atau diminta oleh Yesus. Yesus mau mengajak pengikutnya menjadi orang yang mau mengambil resiko, bahkan ketika tampak mustahil di mata manusia. Ketika berhadapan dengan resiko dan masa depan yang tak pasti, Yesus mengajak mereka untuk percaya dan meletakkan segalanya pada Yesus. Yesus mendorong para pengikutnya ke tempat yang lebih baik, walaupun kadang tampak gelap dan tak pasti. Yesus memberikan yang terbaik, bahkan melimpah sebagai upah karena mau menempuh resiko bersamanya. Yesus menjanjikan masa depan yang indah, kalau pengikutnya mau meyakini Yesus dengan sepenuh hati.

Yesus mau menunjukkan bahwa Yesus sendiri adalah masa depan. Yesus adalah masa depan yang membahagiakan dan menjanjikan, walaupun caranya tidak mudah dan tidak pasti, bahkan tampak mustahil. Kepercayaan dan kemauan untuk menempuh jalan yang berat dan tidak pasti menjadi kunci mengikuti Yesus. Kepercayaan bahwa di jalan yang gelap Yesus akan menjadi terang. Kepercayaan bahwa ketika tersesat Yesus akan selalu menjadi penunjuk jalan keluar. Tidak mudah untuk menjadi pengikut yang seperti itu apalagi kita manusia yang mudah khawatir. Akan tetapi, Yesus sungguh-sungguh mendorong kita dan menguatkan kita. Hingga akhirnya, Ia menunggu kita sebagai masa depan yang kita tuju.

Pekan Prapaskah III

Kel. 3:1-8a,13-15; 1Kor. 10:1-6,10-12

Luk. 13:1-9.

Yang Baik Berumur Lebih Pendek?

Beberapa orang mungkin pernah mendengar jargon atau pepatah “orang baik itu cepat dipanggil Tuhan”. Bahkan, berbagai cerita diciptakan untuk mendukung jargon tersebut. Tidak dapat ditampik atau diabaikan begitu saja, karena beberapa fakta mengungkapkan demikian. Orang yang cukup baik dan saleh di masyarakat berumur lebih pendek, sedangkan yang dipandang tidak baik berumur lebih panjang. Tidak dapat disimpulkan beberapa saja memang, karena fakta yang ada tidak cukup untuk membuktikannya. Masalahnya, ini cukup menarik untuk dibicarakan. Benarkah orang yang dipandang baik karena kesalehan hidupnya berumur lebih pendek?

Dilihat dari beberapa orang yang cukup saleh hidupnya, sepertinya jargon tersebut tidak begitu tepat. Kita sebutkan saja Paus Yohanes Paulus II dan Mother Teresa. Tidak ada yang dapat meragukan kesalehan hidup mereka. Faktanya, mereka berumur panjang, bahkan di usia yang dibilang cukup senja, karya mereka tidak pernah berhenti. Sedangkan orang yang dibilang cukup tidak baik, kehidupan mereka lebih beresiko. Mengapa? Karena hidup mereka senantiasa penuh ketidakpastian dan cenderung menantang nyawa. Berdasarkan hal-hal tersebut berarti jargon tersebut dengan mudah dapat ditolak atau dipastikan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Akan tetapi, belajar dari perumpamaan bacaan minggu ini, buah ara yang akan dicari dan dipetik tentu yang paling baik. Sepintas, hal ini mau menunjukkan bahwa Allah akan memetik yang terbaik. Jadi jargon tadi masuk akal, karena yang baik akan dipetik lebih dulu, baru  yang jahat disingkirkan kemudian. Akan tetapi, mari dilihat dari segi yang lebih rohani dan religius. Yakinkah anda bahwa yang terlebih dulu mati adalah yang baik? Pada dasarnya Allah menciptakan segala sesuatu baik adanya. Jadi manusia itu baik, sebagai bentuk baiknya adalah kehidupan yang dihadiahkan untuk manusia.

Kehidupan itu adalah hadiah atas sebuah kebaikan. Berarti, hukum sebaliknya terjadi, yaitu sebuah dosa atau kejahatan berbuah kematian. Dari penjelasan mengenai pohon ara, kita akan melihat lebih jauh. Tuan tanah mengungkapkan biarkan yang jahat tumbuh. Mengapa? Karena kalau dipotong maka pohon ara itu akan mati selamanya dan yang baik tidak mungkin tumbuh. Oleh sebab itu, pada dasarnya yang jahat akan mati, karena sejak ia melakukan kejahatan, ia telah tahu konsekuensinya. Konsekuensi dari sebuah dosa adalah hukuman, sedangkan yang baik akan memperoleh kehidupan kekal. Dari hal ini, kita belajar bahwa kehidupan itu hanya untuk orang yang mau mengikuti Kristus, yaitu melakukan hidup baik dan saleh. Orang yang jahat akan mendapat kematian karena dosanya. Jadi justru yang berumur lebih pendek adalah orang yang berbuat jahat. Karena yang berbuat jahat, sejak ia melakukan kejahatan, ia sudah mati karena kejahatannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s