Renungan Maret 2016

Renungan Minggu Prapaskah IV
Minggu, 6 Maret 2016

MARI MENGAKU DOSA!

“Bapa aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa” (Luk 15:18)

Pengakuan anak bungsu yang terdapat dalam Luk 15:18 itu merupakan bentuk kesadaran dan kerendahan hati manusia untuk bertobat. Hubungan manusia dengan Tuhan yang rusak karena dosa yang diperbuat oleh manusia kini coba diperbaiki oleh manusia dengan berbalik kembali kepada Allah dan tidak akan berbuat dosa lagi. Itulah pertobatan, saat dimana manusia sadar dan menyesal atas perbuatan dosanya, yang membuat manusia jauh dari Allah, dan bergerak kembali kepada-Nya. Saat anak bungsu meminta warisan kepada bapanya yang masih hidup, saat itu pulalah jarak mulai dibuat oleh manusia, yang dalam hal ini digambarkan dalam diri anak bungsu. Jarak itu kemudian dibuat makin lebar ketika anak bungsu pergi dari rumah dan berfoya-foya hingga akhirnya rusaklah hubungan antara Bapa dengan anaknya. Namun Bapa memiliki sifat murah hati, Bapa memiliki sifat belas kasih, Bapa khawatir akan keadaan anaknya, Bapa menanti anaknya kembali. Bapa percaya bahwa anaknya pasti akan kembali. Dan ketika anak bungsu kembali ke rumah, Bapa menyambutnya dengan sukacita. Disinilah letak kemurahan hati, belas kasih dan kerahiman Allah yakni mengampuni dosa umat-Nya dan bersukacita melihat umat-Nya bertobat.

Seringkali kita malu untuk pergi ke ruang pengakuan. Justru malu karena dosa membuat kita perlu pengampunan dari Bapa, bukannya malah makin menjauh. Ruang pengakuan dosa bukanlah tempat yang angker dan ditakuti. Ruang pengakuan adalah ruang penyembuhan dimana Allah berbelas kasih, Allah yang maharahim mengampuni dosa kita. Maka, kita perlu memiliki pemikiran dan sikap seperti anak bungsu yakni sadar dan melakukan praktik pertobatan “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa”. Mari kita pergi ke ruang pengakuan, kita mengakui segala dosa kita, kita mohon pengampunan dari Allah Bapa melalui pengantaraan Imam dan kita terima sakramen tobat dengan penuh sukacita. Pertobatan kita adalah sukacita bagi Allah karena yang hilang telah ditemukan kembali. Amin.

Renungan Minggu Prapaskah V
Minggu, 13 Maret 2016

JANGAN LAGI!

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7)

Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah V. Dalam bacaan Injil, kita dihadapkan pada kisah perempuan yang berzinah, perempuan yang kita kenal dengan nama Maria Magdalena. Kita pasti sudah paham isi cerita dalam perikop tersebut, dan Sabda Tuhan dalam perikop itu seringkali menjadi ‘senjata’ kita dalam ‘melawan’ orang-orang yang tidak suka dengan pelayanan yang kita lakukan yakni “barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”

Namun pertanyaan untuk kita renungkan, saat kita mengucapkan kalimat itu, kita tampil sebagai siapa? Yesus, Maria Magdalena atau ahli Taurat/Orang Farisi?

Seringkali kita malah tampil sebagai ahli Taurat dan orang Farisi dalam menyatakan kalimat itu sehingga kalimat yang sebenarnya berasal dari Yesus dan mengandung makna penyadaran diri dan pertobatan malah diubah menjadi bentuk pengusiran dan penyingkiran orang lain dari Gereja.

Saudara-saudari yang terkasih. Seringkali kehadiran orang yang kita tahu telah berdosa berat mengundang kita untuk mengadakan perhitungan dan menyingkirkan mereka dari lingkungan kita. Seringkali kita merasa benar dan lebih baik daripada mereka. Akibatnya satu sama lain merasa diri paling benar sehingga muncullah pernyataan dari Injil Yohanes 8:7 tersebut. Nyatanya kita semua adalah manusia terbatas dan rapuh, mudah jatuh ke dalam dosa. Kita harus menyadari diri sendiri agar tidak mudah angkuh. Maka penting untuk kita renungkan pernyataan dari Paus Fransiskus yang mengungkapkan tentang tumbuhnya budaya menyingkirkan dalam dunia ini dan di dalam Gereja. Ada kelompok karena alasan tertentu disingkirkan dan bahkan didiskriminasi. Gereja bukan untuk orang yang sempurna, melainkan Gereja bagi semua saja yang mencari Allah. Gereja perlu menunjukkan wajah Kerahiman Allah yang menyatakan kemurahan hati merangkul siapa saja dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Kasih tidak untuk membedakan, namun menyatukan.

Sebagai anak-anak Allah, mari kita bersatu di dalam Gereja Katolik terutama di paroki kita. Jangan lagi ada iri hati, dendam dan amarah yang menyebabkan satu sama lain saling menyingkirkan. Kristus sengsara dan wafat di Salib untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Itulah “the ultimate love” yang Yesus Kristus ajarkan kepada kita untuk kita teruskan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

MINGGU PALMA
Minggu, 20 Maret 2016

SOCIA PASSIONIS

Bunda Maria merupakan “hamba yang menderita” yang disatukan Allah dengan Putra-Nya sebagai Bunda dan peserta dalam sengsara-Nya (socia passionis). Sejak masa kanak-kanak Yesus, seluruh hidup Santa Perawan Maria dijalani dan ditandai dengan pedang (bdk. Luk 2:35). Derita dan kedukaan Bunda Maria disebabkan oleh penolakan manusia terhadap PutraNya (bdk. Yoh 1:11). Kendati sedih, Bunda Maria tetap setia menemani proses pengadilan, hukuman hingga wafat Kristus di Salib.

Hari ini, kita memasuki Pekan Suci. Kita mengawalinya dengan Minggu Palma yang memadukan kemegahan Rajawi Kristus dan pemberitaan sengsara-Nya. Mari kita juga menjadi peserta-peserta sengsara-Nya (sociae passionis) yang tidak hanya ada ketika Yesus dielu-elukan di Yerusalem tetapi juga setia saat sengsara, wafat hingga kebangkitan-Nya. Mari kita renungkan dan ikuti dengan setia setiap Perayaan Ekaristi dan Ibadat Agung serta kegiatan-kegiatan yang berlangsung selama Pekan Suci ini. Amin.

HARI RAYA PASKAH
Minggu, 27 Maret 2016

BANGKIT

Sore hari, saat saya baru pulang dari rumah duka, melayat orang meninggal, saya ngobrol dengan seorang bapak di depan pastoran. Bapak itu bertanya kepada saya “Kita tahu Yesus bangkit dan kita merayakan Paskah setiap tahunnya, lalu apa sih implementasi kebangkitan untuk kita?”

Pertanyaan ini mungkin setiap tahunnya kita ungkapkan dalam batin kita. Kita seringkali merasa bahwa waktu cepat berlalu dan “gitu-gitu aja”, setelah Paskah kita kembali ke rutinitas sehari-hari yang membosankan. Kita seringkali merasakan kesulitan dan tantangan yang sama baik sebelum Paskah maupun sesudah Paskah. Malahan kita sampai mengungkapkan bahwa Paskah tidak memberi arti bagi kita.

Bapak itu kemudian memberikan jawaban yang inspiratif. Jawabannya adalah bahwa yang menandai kebangkitan Kristus sekarang ini adalah bahwa kita juga dibangkitkan oleh Kristus. Kita jadi menyadari bahwa sesama adalah diri kita sendiri. Maka dengan menyadari hal itu, kita bisa meringankan beban pekerjaan sesama, kita jadi lebih peka dan mengerti perasaan orang lain. Keluarga menjadi tempat awal kita memulai kesadaran itu, misalnya melipat selimut sendiri, membagi tugas membersihkan rumah dan meringankan beban pekerjaan asisten rumah tangga.

Contoh sederhana tersebut merupakan bentuk perubahan cara lama ke cara yang baru. Mungkin sebelum Paskah kita seringkali mengandalkan ibu dan asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah, tetapi sekarang kita bekerja sama dalam keluarga untuk membersihkan rumah. Itulah satu dari buah-buah Paskah, saat Sabda yang kita renungkan sungguh menjadi nyata. Kritus sengsara dan wafat di Salib untuk menebus dosa-dosa manusia dan Ia bangkit memberi kita hidup yang baru. Kebangkitan bukan dimulai dari sesuatu yang besar melainkan mulailah dari hal-hal yang sederhana. Selamat Paskah. Tuhan memberkati. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s