HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 24 Mei 2016 : HARI DEMI HARI


943820_883465541761494_938289998571166336_n.jpgBacaan Ekaristi : 1Ptr 1:10-16; Mzm 98:1,2-3ab,3c-4; Mrk 10:28-31

“Hari ini, 24 Mei 2016 adalah Pesta Maria Pertolongan Orang Kristen, yang dirayakan dengan devosi khusus di Tiongkok. Saya mempersembahkan Misa ini untuk seluruh rakyat Tiongkok, untuk negara besar mereka, agar Tuhan memberkati Tiongkok” : dengan kata-kata ini Paus Fransiskus memulai perayaan Ekaristi di Kapel Santa Marta, Vatikan. Dalam homilinya Bapa Suci memperluas tema “kekudusan sederhana”, yang kepadanya semua orang Kristen dipanggil : suatu “cara” untuk hidup “setiap hari” dengan “keteguhan hati, harapan, kasih karunia dan pertobatan”.

Permenungan Paus Fransiskus diilhami oleh Bacaan Pertama liturgi hari itu (1 Ptr 1:10-16) : “sebuah risalah kecil tentang kekudusan, sebuah nasehat, tetapi juga sebuah petunjuk jalan menuju kekudusan”. Ia terdiri dari “kekudusan sederhana semua orang Kristen, kekudusan setiap hari, kekudusan kita, apa yang harus kita lakukan setiap hari”, Paus Fransiskus menjelaskan. Acuan terakhir jelas dan Santo Petrus menunjukkannya, mengatakan : “Sebab ada tertulis: ‘Kuduslah kamu, sebab Aku kudus'”, dan Allah sendiri berkata kepada Abraham : “Berjalanlah di hadirat-Ku dan tak bercacat”. Dengan kata lain, Paus Fransiskus menjelaskan: “kekudusan sedang berjalan dalam hadirat Allah dan dengan cara yang tak tercela”. Kalian “tidak dapat membeli atau menjual kekudusan”, Paus Fransiskus mengatakan, “juga tidak dapat kalian memberikannya”. Bahkan, ia “adalah sebuah perjalanan yang harus kuperbuat ke dalam hadirat Allah : tidak ada orang lain yang bisa melakukannya dalam nama-Ku”. Tentu saja, “Saya bisa berdoa agar orang lain dapat menjadi kudus, tetapi jalan tersebut adalah jalan yang ia harus jalani, bukan saya”.

Menjelaskan lebih lanjut, berdasarkan teks Petrus, Paus Fransiskus menunjukkan beberapa “kata” yang berguna untuk mengajar kita “apa kekudusan sehari-hari, kekudusan yang – boleh dikatakan – bahkan tanpa nama”. Pertama harus ada “keteguhan hati”. Petrus mengatakan hal ini juga : “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan usahakanlah segala sesuatu, bergerak maju, memberikan semua yang kamu miliki : milikilah keteguhan hati”. Kita selalu membutuhkan “keteguhan hati untuk bergerak maju”, oleh karena itu kita bisa mengatakan bahwa “Kerajaan Surga Yesus adalah untuk orang-orang yang berani”.

Rasul Petrus melanjutkan, mengatakan : “Letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu”. Hal ini membawa kita ke kata berguna kedua : “harapan”. Kalian tidak bisa, Paus Fransiskus menjelaskan, “melakukan perjalanan di jalan tanpa menginginkan kedatangan”. Kita menantikan “sebuah perjumpaan dengan Allah, sebuah perjumpaan dengan Yesus”, dan harapan ini “menggerakkan keteguhan hati”, kata Paus Fransiskus.

Santo Petrus kemudian berbicara tentang “kasih karunia”. Kata ketiga ini membantu kita untuk memahami bahwa “kita tidak bisa menghayati kekudusan pada diri kita sendiri”, malahan “itu adalah sebuah kasih karunia”. Paus Fransiskus menjelaskan lebih lanjut, dengan mengatakan : “Menjadi baik, menjadi kudus, setiap hari berjalan sedikit lebih jauh dalam kehidupan Kristen, adalah sebuah kasih karunia dari Allah dan kita harus memintanya”, dan kita harus “bersedia” untuk menerimanya.

Tentang tema “harapan perjalanan”, Paus Fransiskus juga menyarankan membaca ulang Bab 11 dari Surat Ibrani : “ia menceritakan jalan para nenek moyang kita, orang-orang pertama yang dipanggil oleh Allah, bagaimana mereka bergerak maju, dan juga tentang bapa kita Abraham, dengan mengatakan : ‘ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui'”. Kita masing-masing, Paus Fransiskus mengatakan, bisa “meminta kepada Tuhan kasih karunia ini”, dan “dengan kesederhanaan” bisa berdoa : “Tuhan, aku orang yang malang, tetapi Engkau bisa melakukan sebuah mukjizat dan menjadikan aku sedikit lebih baik”. Dengan cara ini kita bisa “membuka hati kita” sehingga Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri kita.

Ada kata lain yang terakhir yang selalu disarankan oleh Petrus, yang menulis : “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. Di sini kita berbicara tentang “pertobatan”. Paus Fransiskus menambahkan : sepanjang jalan “kita seharusnya tidak melihat ke belakang : itu adalah jalan untuk bergerak maju, menuju cakrawala, dengan harapan dan dengan keteguhan hati, terbuka terhadap kasih karunia”; tetapi bisa terjadi bahwa “suatu hari aku bergerak maju, dan hari lainnya aku bergerak mundur, maju mundur. Ini tidak membantu”, ia membuat kita “terjebak di tempat yang sama”. Oleh karena itu, “setiap hari” kita memerlukan pertobatan. Mungkin seseorang bisa mengatakan : “Bapa, untuk bertobat aku harus melakukan penebusan dosa, jadi aku memerlukan sebuah hajaran!”, sementara sebaliknya, Paus Fransiskus menjelaskan, apa yang kita butuhkan adalah “pertobatan-pertobatan kecil”. Dan maka, “jika kalian mampu tidak berbicara buruk tentang orang lain, kalian berada di jalan yang benar untuk menjadi kudus”. Kita dipanggil untuk hal-hal sederhana : “Apakah aku ingin mengkritik tetanggaku, atau rekan kerjaku?”. “Menggigit lidahmu sedikit” akan membantu, mungkin ia “akan membengkak”, tetapi “jiwa kalian akan lebih kudus, di jalan ini”.

Hal yang penting adalah “bergerak maju” di jalan ini yang adalah “sederhana” tetapi itu juga menyerukan “kekuatan” – sebuah karunia Roh Kudus – dalam rangka “menanggung penderitaan-penderitaan”. Memang, mereka masih akan terjadi dalam kehidupan : “baik itu sebuah penyakit, kematian orang yang dicintai, sebuah masalah dengan anak-anak atau saudara-saudara kandung mereka, atau sebuah masalah besar dengan bisnis atau di tempat kerja”. Acuannya selalu Yesus, yang “berjalan ke depan dan menderita”. Bagi kita juga “ada potongan-potongan kecil salib itu”, tetapi ada juga “sukacita perjalanan ini”, yang di dalamnya kita menemukan Yesus di “setiap saat”.

Oleh karena itu, Paus Fransiskus mengakhiri : “Keteguhan hati, harapan, kasih karunia, pertobatan dan kekuatan”, sehingga “kalian dapat menjadi kudus setiap hari, dalam Gereja : sebuah langkah maju sehari-hari pada perjalanan ini menuju sebuah perjumpaan dengan Tuhan”.

(Peter Suriadi – Bogor, 24 Mei 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-24.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s