HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI LAPANGAN DEPAN BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 26 Mei 2016

943820_883465541761494_938289998571166336_n.jpg

Bacaan Ekaristi : Kej 14:18-20; Mzm 110:1,2,3,4; 1 Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17

“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor 11:24-25).

Dua kali Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, mengingatkan perintah Yesus ini dalam catatannya tentang pelembagaan Ekaristi. Ini adalah kesaksian tertua yang kita miliki tentang kata-kata Kristus pada Perjamuan Terakhir.

“Perbuatlah ini”. Artinya, mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya; mengambil piala, mengucap syukur, dan membagikannya. Yesus memberikan perintah untuk mengulangi tindakan ini yang dengannya Ia melembagakan peringatan Paskah-Nya sendiri, dan dengan berbuat demikian memberi kita Tubuh dan Darah-Nya. Tindakan ini menjangkau kita hari ini : “melakukan” Ekaristi yang selalu memiliki Yesus sebagai subjeknya, tetapi yang dijadikan nyata melalui tangan kita yang lemah yang diurapi oleh Roh Kudus.

“Perbuatlah ini”. Yesus pada kesempatan sebelumnya meminta murid-murid-Nya untuk “melakukan” apa yang begitu jelas bagi-Nya, dalam ketaatan pada kehendak Bapa. Dalam perikop Injil yang baru saja kita dengar, Yesus berkata kepada murid-murid di depan orang banyak yang lelah dan lapar : “Kamu harus memberi makan” (Luk 9:13). Memang, Yesuslah yang memberkati dan memecah-mecah roti dan menyediakan makanan yang cukup untuk memuaskan seluruh orang banyak, tetapi murid-muridlah yang menawarkan lima roti dan dua ikan. Yesus menginginkannya seperti ini : bahwa, ketimbang menyuruh orang banyak itu pergi, para murid harus menawarkan sedikit apa yang mereka miliki. Dan ada gerak isyarat lainnya : potongan-potongan roti, yang dipecah-pecahkan oleh tangan Tuhan kita yang suci dan mulia, sampai ke dalam tangan para murid yang lemah, yang membagi-bagikannya kepada orang-orang. Ini jugalah yang “dilakukan” para murid bersama Yesus; bersama Dia mereka mampu “memberi mereka makan”. Jelas mukjizat ini tidak dimaksudkan hanya untuk memuaskan rasa lapar selama satu hari, melainkan ia menandakan apa yang ingin dicapai Kristus untuk keselamatan seluruh umat manusia, memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri (bdk Yoh 6:48-58). Namun ini perlu selalu terjadi melalui dua tindakan kecil tersebut : menawarkan beberapa roti dan ikan yang kita miliki; menerima roti yang dipecah-pecahkan oleh tangan Yesus dan memberikannya kepada semua orang.

Memecah-mecah : ini adalah kata lain yang menjelaskan arti kata-kata ini : “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Yesus dipecah-pecah; Ia dipecah-pecah untuk kita. Dan Ia meminta kita untuk memberikan diri kita, untuk memecah-mecah diri kita, apa adanya, bagi orang lain. “Memecah-mecah roti” ini menjadi ikon, tanda untuk mengenali Kristus dan orang-orang Kristen. Kita memikirkan Emaus : mereka mengenali Dia “dalam pemecahan roti” (Luk 24:35). Kita mengingat jemaat perdana di Yerusalem : “Mereka bertekun … untuk memecahkan roti” (Kis 2:42). Dari permulaan itulah Ekaristi yang menjadi pusat dan pola kehidupan Gereja. Tetapi kita memikirkan juga semua orang kudus – yang terkenal atau tak terkenal – yang telah “memecah-mecahkan” diri mereka, kehidupan mereka sendiri, guna “memberikan sesuatu untuk dimakan” kepada saudara dan saudari mereka. Berapa banyak ibu, berapa banyak ayah, bersama-sama dengan potongan-potongan roti yang mereka berikan setiap hari di atas meja rumah mereka, telah memecah-mecahkan hati mereka untuk membiarkan anak-anak mereka tumbuh, dan tumbuh dengan baik! Berapa banyak orang Kristen, sebagai para warga negara yang bertanggung jawab, telah memecah-mecahkan hidup mereka sendiri untuk membela martabat semua orang, terutama orang-orang yang paling miskin, orang-orang yang terpinggirkan dan orang-orang yang terdiskriminasi! Di manakah mereka menemukan kekuatan untuk melakukan ini? Di dalam Ekaristi : di dalam kekuatan kasih Tuhan yang Bangkit, yang hari ini juga memecah-mecahkan roti untuk kita dan mengulangi : “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”.

Semoga tindakan prosesi Ekaristi ini, yang kita akan laksanakan tak lama lagi, menanggapi perintah Yesus. Suatu tindakan untuk mengenangkan-Nya; suatu tindakan memberi makanan bagi orang banyak hari ini; suatu tindakan memecah-mecahkan membuka iman kita dan kehidupan kita sebagai sebuah tanda kasih Kristus untuk kota ini dan untuk seluruh dunia.

****
(Peter Suriadi – Bogor, 27 Mei 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari_27.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s