HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA YUBILEUM UNTUK PARA DIAKON 29 Mei 2016

12342800_890193751096377_1383324114673134776_n.jpgBacaan Ekaristi : 1Raj 8:41-43; Gal 1:1-2,6-10; Mzm 117:1, 2; Luk 7:1-10

“Hamba Kristus” (Gal 1:10). Kita telah mendengarkan kata-kata ini yang Rasul Paulus, tuliskan kepada jemaat Galatia, gunakan untuk menggambarkan dirinya. Pada awal suratnya, ia menampilkan dirinya sebagai “seorang rasul” oleh kehendak Tuhan Yesus (bdk. Gal 1:1). Kedua istilah ini – rasul dan hamba – berjalan bersama-sama. Mereka tidak pernah terpisah. Mereka seperti dua sisi medali. Mereka yang memberitakan Yesus dipanggil untuk melayani, dan mereka yang melayani memberitakan Yesus.

Tuhan adalah yang pertama menunjukkan kepada kita hal ini. Ia, Sang Sabda Bapa, yang membawakan kita kabar baik (Yes 61:1), memang, yang merupakan kabar baik (bdk Luk 4:18), menjadi hamba kita (Flp 2:7). Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:45). “Ia menjadi hamba (diakonos) dari semua orang”, tulis salah satu Bapa Gereja (Santo Polikarpus, Ad Phil. V, 2). Kita yang memberitakan Dia dipanggil untuk berbuat seperti yang Ia perbuat. Seorang murid Yesus tidak bisa mengambil jalan lain selain dari jalan Sang Guru. Jika ia ingin memberitakan-Nya, ia harus meneladan Dia. Seperti Paulus, ia harus berusaha untuk menjadi seorang hamba. Dengan kata lain, jika penginjilan adalah perutusan yang dipercayakan pada baptisan setiap orang Kristen, melayani adalah jalan yang dilaksanakan perutusan tersebut. Inilah satu-satunya jalan untuk menjadi seorang murid Yesus. Kesaksian-Nya adalah orang-orang yang berbuat seperti yang Ia perbuat : orang-orang yang melayani saudara dan saudari mereka, tidak pernah lelah mengikuti Kristus dalam kerendahan hati-Nya, tidak pernah letih akan kehidupan Kristen, yang merupakan sebuah kehidupan pelayanan.

Bagaimana kita menjadi “para hamba yang baik dan setia” (bdk. Mat 25:21)? Sebagai langkah pertama, kita diminta untuk bersedia. Seorang pelayan sehari-harinya belajar tidak terikat dari melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri dan menjalani hidupnya semaunya. Setiap pagi ia melatih dirinya untuk bermurah hati dengan kehidupannya dan menyadari bahwa sisa hari bukan miliknya, tetapi diserahkan kepada orang lain. Orang yang melayani tidak bisa menimbun waktu luangnya; ia harus menyerah gagasan menjadi tuan atas harinya. Ia tahu bahwa waktunya bukan miliknya, tetapi sebuah karunia dari Allah yang kemudian ditawarkan kembali kepadanya. Hanya dengan jalan ini ia akan berbuah. Orang yang melayani bukanlah budak dari agendanya, tetapi sungguh siap untuk berurusan dengan yang tak terduga, sungguh tersedia untuk saudara dan saudarinya dan sungguh terbuka terhadap kejutan-kejutan Allah yang berkesinambungan. Seorang hamba tahu bagaimana membuka pintu waktu dan ruang batinnya bagi orang-orang di sekelilingnya, termasuk mereka yang mengetuk pintu pada waktu senggang, bahkan jika itu memerlukan menyisihkan sesuatu yang suka ia lakukan atau mengorbankan istirahat yang memang selayaknya. Para diakon yang terkasih, jika kalian menunjukkan bahwa kalian tersedia untuk orang lain, pelayanan kalian tidak akan menjadi pelayanan diri sendiri, tetapi secara injili berbuah.

Injil hari ini juga berbicara kepada kita tentang pelayanan. Ia menunjukkan kita dua hamba yang banyak mengajarkan kita : hamba seorang perwira yang disembuhkan Yesus dan perwira itu sendiri, yang melayani Kaisar. Kata-kata yang digunakan oleh perwira untuk mencegah Yesus datang ke rumahnya luar biasa, dan sering sangat berlawanan dari kata-kata kita : “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku (Luk 7:6); sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu (Luk 7:7)”; “Sebab aku sendiri seorang bawahan” (7:8). Yesus heran pada kata-kata ini. Ia dilanda oleh kerendahan hati yang besar dari perwira ini, oleh kelemahlembutan-Nya. Mengingat kesulitan-kesulitannya, perwira itu mungkin sedang cemas dan bisa menuntut untuk didengar, membuat otoritasnya terasa. Ia bisa saja bersikeras dan bahkan memaksa Yesus untuk datang ke rumahnya. Sebaliknya, ia rendah hati dan tidak angkuh; ia tidak mengangkat suara atau membuat keributan. Ia bertindak, mungkin bahkan tanpa menyadarinya, seperti Allah sendiri, yang “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Karena Allah, yang adalah kasih, demi kasih sungguh siap untuk melayani kita. Ia sabar, baik dan selalu ada untuk kita; Ia menderita karena kesalahan-kesalahan kita dan mencari cara untuk membantu kita bertambah baik. Ini adalah ciri-ciri pelayanan Kristen; lemah lembut dan rendah hati, ia meneladan Allah dengan melayani orang lain : dengan menyambut mereka dengan kasih yang sabar dan simpati yang tak kunjung padam, dengan membuat mereka merasa diterima dan di rumah dalam jemaat gerejani, di mana yang terbesar adalah bukan mereka yang memerintah tetapi mereka yang melayani (bdk. Luk 22:26). Inilah, para diakon yang terkasih, bagaimana panggilan kalian sebagai para pelayan cinta kasih akan dewasa : dalam kelembutan.

Setelah Rasul Paulus dan perwira tersebut, bacaan-bacaan hari ini menunjukkan kita hamba yang ketiga, hamba yang disembuhkan Yesus. Injil mengatakan kepada kita bahwa ia sangat dihargai oleh tuannya dan sakit, tanpa menyebut sakit kerasnya (ayat 2). Dalam arti tertentu, kita bisa melihat diri kita di dalam diri hamba itu. Kita masing-masing sangat dihargai Allah, yang mengasihi kita, memilih kita dan memanggil kita untuk melayani. Namun kita masing-masing pertama-tama perlu disembuhkan secara batin. Untuk siap melayani, kita memerlukan hati yang sehat : hati disembuhkan oleh Allah, hati yang tahu pengampunan dan tidak tertutup atau mengeras. Akan ada baiknya setiap hari kita mendoakan dengan penuh kepercayaan hal ini, meminta disembuhkan oleh Yesus, semakin bertumbuh seperti Dia yang “tidak menyebut kita lagi hamba, tetapi menyebut kita sahabat” (Yoh 15:15). Para diakon yang terkasih, ini adalah sebuah kasih karunia yang bisa kalian mohonkan setiap hari dalam doa. Kalian dapat menawarkan Tuhan karya kalian, ketidaknyamanan kecil kalian, kelelahan dan harapan kalian dalam doa yang otentik yang membawa hidup kalian kepada Tuhan dan Tuhan kepada hidup kalian. Ketika kalian melayani di meja Ekaristi, di sana kalian akan menemukan kehadiran Yesus, yang memberikan diri-Nya kepada kalian sehingga kalian dapat memberikan diri kalian kepada orang lain.

Dengan cara ini, bersedia dalam hidup, hati yang lemah lembut dan berdialog terus menerus dengan Yesus, kalian tidak akan takut untuk menjadi para hamba Kristus, serta berjumpa dan membelai tubuh Tuhan dalam orang-orang miskin zaman kita.

*****
(Peter Suriadi – Bogor, 29 Mei 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa_30.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s