HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (MISA UNTUK YUBILEUM PARA IMAM) 3 Juni 2016 : PARA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI TELADAN KRISTUS SANG GEMBALA YANG BAIK

10277084_10153807341476585_577203751260984794_n.jpg

Bacaan Ekaristi : Yeh 34:11-16; Mzm 23; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7

Perayaan Yubileum untuk Para Imam pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ini mengajak kita semua beralih pada hati, akar dan dasar terdalam setiap orang, fokus kehidupan afektif kita dan, dalam sebuah kata, pokoknya yang sesungguhnya. Hari ini kita merenungkan dua hati : Hati Sang Gembala yang Baik dan hati kita sendiri sebagai para imam.

Hati Sang Gembala yang Baik bukan hanya hati yang menunjukkan kita kerahiman, tetapi adalah kerahiman itu sendiri. Di sana kasih Bapa bersinar; di sana aku mengetahui aku disambut dan dipahami sebagaimana adanya; di sana, dengan segala dosa dan keterbatasanku, aku mengetahui kepastian bahwa aku dipilih dan dikasihi. Merenungkan hati itu, aku memperbaharui cinta pertamaku : kenangan waktu itu ketika Tuhan menjamah jiwaku dan memanggilku untuk mengikuti-Nya, kenangan akan sukacita telah menebarkan jala kehidupan kita di atas lautan sabda-Nya (bdk. Luk 5:5).

Hati Sang Gembala yang Baik mengatakan kepada kita bahwa kasih-Nya tak terbatas; ia tidak pernah terkuras dan tidak pernah berhenti. Di sana kita melihat pemberian diri-Nya yang tak terhingga dan tak terbatas; di sana kita menemukan sumber kasih yang setia dan lemah lembut itu yang membebaskan dan menjadikan orang lain bebas; di sana kita terus menemukan kembali bahwa Yesus mengasihi kita “bahkan sampai pada kesudahan” (Yoh 13:1), tanpa pernah memaksa.

Hati Sang Gembala yang Baik menjangkau kita, terutama orang-orang yang paling jauh. Di sana jarum kompas-Nya secara tak terelakkan menunjukkan, di sana kita melihat “kelemahan” tertentu kasih-Nya, yang ingin merangkul semua orang dan tidak seorangpun hilang.

Merenungkan Hati Kristus, kita dihadapkan dengan pertanyaan mendasar dari kehidupan imami kita : Ke manakah hatiku terarah? Pelayanan kita sering penuh rencana, rancangan dan kegiatan : dari katekese hingga liturgi, hingga karya amal, hingga komitmen pastoral dan administrasi. Di tengah-tengah semua ini, kita masih harus bertanya kepada diri kita : Apakah hatiku dimajukan, ke manakah ia terarah, harta apakah yang ia cari? Karena sebagaimana yang dikatakan Yesus : “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

Harta agung Hati Yesus ada dua : Bapa dan diri kita. Hari-hari-Nya terbagi antara doa kepada Bapa dan menjumpai orang-orang. Demikian juga hati para imam Kristus mengenal hanya dua arah : Tuhan dan umat-Nya. Hati imam adalah hati yang tertusuk kasih Tuhan. Karena alasan ini, ia tidak lagi memandang dirinya sendiri, tetapi berpaling kepada Allah dan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi “hati yang sedang berdebar-debar”, terpikat oleh keinginan sesaat, menghindari perbedaan pendapat dan mencari kepuasan kecil. Sebaliknya, ia adalah hati yang berakar kuat di dalam Tuhan, dihangatkan oleh Roh Kudus, terbuka dan tersedia untuk saudara dan saudari kita.

Untuk membantu hati kita terbakar dengan amal kasih Yesus Sang Gembala yang Baik, kita bisa melatih diri kita dengan melakukan tiga hal yang disarankan kepada kita oleh bacaan-bacaan hari ini : mencari, menyertakan dan bersukacita.

Mencari. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita bahwa Allah sendiri pergi keluar mencari domba-domba-Nya (Yeh 34:11,16). Seperti yang dikatakan Injil, Ia “pergi mencari yang sesat itu” (Luk 15:4), tanpa takut akan resiko. Tanpa menunda, Ia meninggalkan padang rumput dan hari kerja biasanya. Ia tidak menunda pencarian. Ia tidak berpikir : “Aku telah melakukan cukup untuk hari ini; aku akan mengkhawatirkannya besok”. Sebaliknya, Ia segera menemukan satu domba yang hilang itu; hati-Nya cemas sampai Ia menemukan satu domba yang hilang itu. Setelah menemukannya, Ia melupakan kelelahan-Nya dan menempatkan domba-domba di bahu-Nya, penuh kepuasan.

Hati tersebut adalah hati yang mencari – hati yang tidak menyisihkan waktu dan ruang sebagai bersifat pribadi, hati yang tidak cemburu akan waktu tenangnya yang sah dan tidak pernah menuntut agar ia dibiarkan sendirian. Seorang gembala seturut hati Allah tidak melindungi daerah nyamannya; ia tidak khawatir untuk melindungi nama baiknya, melainkan, tanpa takut kritik, ia bersedia mengambil resiko dalam berusaha meneladan Tuhannya.

Seorang gembala seturut hati Allah memiliki hati cukup bebas untuk mengesampingkan kekhawatirannya sendiri. Ia tidak hidup dengan memperhitungkan perolehannya atau berapa lama ia telah bekerja : ia bukanlah seorang akuntan Roh, tetapi orang Samaria yang baik yang mencari mereka yang membutuhkan. Bagi kawanan domba ia adalah seorang gembala, bukan seorang penyelia, dan ia mengabdikan dirinya untuk perutusan bukan lima puluh atau enam puluh persen, tetapi dengan seluruh yang ia miliki. Dalam pencarian, ia menemukan, dan ia menemukan karena ia mengambil resiko. Ia tidak berhenti ketika kecewa dan ia tidak menyerah kepada kelelahan. Memang, ia bersikeras dalam berbuat baik, diurapi dengan sikap keras kepala ilahi yang tidak kehilangan pandangan terhadap seorang pun. Ia tidak hanya menjaga pintunya terbuka, tetapi ia juga pergi untuk mencari orang-orang yang tidak lagi ingin memasukinya. Seperti setiap orang Kristen yang baik, dan sebagai teladan bagi setiap orang Kristen, ia terus-menerus pergi keluar dari dirinya sendiri. Episentrum hatinya berada di luar dirinya. Ia tidak ditarik oleh “aku”-nya sendiri, tetapi oleh “Engkau” Allah dan oleh “kita” para pria dan wanita lainnya.

Menyertakan. Kristus mengasihi dan mengenal domba-domba-Nya. Ia memberikan hidup-Nya bagi mereka, dan tidak ada orang asing bagi-Nya (Yoh 10:11-14). Kawanan domba-Nya adalah keluarga-Nya dan hidup-Nya. Ia bukan seorang atasan yang ditakuti oleh kawanan domba-Nya, tetapi seorang gembala yang berjalan bersama mereka dan memanggil mereka dengan nama (Yoh 10:3-4). Ia ingin mengumpulkan domba-domba yang belum menjadi kawanan-Nya (Yoh 10:16).

Demikian juga dengan imam Kristus. Ia diurapi untuk umatnya, bukan memilih rancangan-rancangannya sendiri tetapi menjadi dekat dengan pria dan wanita yang sesungguhnya yang telah dipercayakan Allah kepadanya. Tidak ada orang yang dikecualikan dari hatinya, doanya atau senyumannya. Dengan tatapan dan hati yang penuh kasih kebapaan, ia menyambut dan menyertakan semua orang, dan jika berkali-kali ia harus memperbaiki, itu adalah untuk menarik orang lebih dekat. Ia tidak berdiri terpisah dari siapapun, tetapi selalu siap untuk mengotori tangannya. Sebagai seorang pelayan persekutuan yang ia rayakan dan hayati, ia tidak menunggu salam dan pujian dari orang lain, tetapi adalah orang pertama yang menjangkau, menolak pergunjingan, penghakiman dan kedengkian. Ia mendengarkan dengan sabar masalah-masalah umat-Nya dan menyertai mereka, menabur pengampunan Allah dengan kasih sayang yang murah hati. Ia tidak memarahi mereka yang berkeliaran atau kehilangan arah mereka, tetapi selalu siap membawa mereka kembali dan mengatasi kesulitan dan perselisihan.

Bersukacita. Allah “penuh sukacita” (bdk. Luk 15:5). Sukacita-Nya dilahirkan dari pengampunan, dari kehidupan yang dibangkitkan dan diperbarui, dari anak-anak yang hilang yang menghirup sekali lagi udara rumah yang manis. Sukacita Yesus Sang Gembala yang Baik bukanlah sukacita bagi diri-Nya sendiri, tetapi sukacita bagi orang lain dan bersama orang lain, sukacita kasih yang sejati. Inilah juga sukacita imam. Ia diubah oleh kerahiman yang ia berikan secara cuma-cuma. Dalam doa ia menemukan penghiburan Allah dan menyadari bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada kasih-Nya. Dengan demikian ia mengalami kedamaian batin, dan bahagia menjadi saluran kerahiman, membawa pria dan wanita semakin dekat dengan Hati Allah. Kesedihan baginya bukanlah sesuatu yang biasa, tetapi hanya sebuah langkah di sepanjang jalan; kekerasan adalah asing baginya, karena ia adalah seorang gembala seturut hati Allah yang lembut.

Para imam yang terkasih, dalam perayaan Ekaristi kita menemukan kembali setiap hari jatidiri kita sebagai para gembala. Dalam setiap Misa, semoga kita benar-benar menjadikan kata-kata kita sendiri kata-kata Kristus : “Inilah tubuh-Ku, yang diberikan kepadamu”. Inilah arti kehidupan kita; dengan kata-kata ini, dengan cara yang nyata kita sehari-hari dapat memperbaharui janji-janji yang kita buat pada tahbisan imamat kita. Saya berterima kasih kepada kalian semua karena mengatakan “ya” untuk memberikan kehidupan kalian dalam persatuan dengan Yesus: karena dalam hal inilah ditemukan sumber sukacita kita yang murni.

*****
(Peter Suriadi – Bogor, 3 Juni 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s