HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KANONISASI BEATA MARIA ELISABETH HASSELBLAD DAN BEATO STANISLAUS DARI YESUS DAN MARIA 5 Juni 2016

AFP5373805_Articolo.jpgBacaan Ekaristi : 1Raj 17:17-24; Mzm 30:2,4,5-6,11,12a,13b; Gal 1:11-19; Luk 7:11-17

Sabda Allah, yang baru saja kita dengar, mengarahkan kita ke peristiwa pusat iman kita : kemenangan Allah atas penderitaan dan kematian. Ia memberitakan Injil harapan, yang lahir dari misteri Paskah Kristus, yang kemegahannya terlihat pada wajah Tuhan yang bangkit dan mewahyukan Allah, Bapa kita sebagai Dia yang menghibur kita semua di dalam kesengsaraan kita. Sabda itu memanggil kita untuk tetap dipersatukan dengan Sengsara Tuhan Yesus, sehingga kuasa kebangkitan-Nya dapat dinyatakan di dalam diri kita.

Dalam Sengsara Kristus, kita menemukan jawaban Allah terhadap orang-orang yang putus asa dan berkali-kali menangis geram karena pengalaman kesakitan dan kematian timbul di dalam diri kita. Ia mengatakan kepada kita bahwa kita tidak bisa lari dari Salib, tetapi harus tetap berada di kakinya, seperti yang dilakukan Bunda kita. Dalam menderita bersama Yesus, Maria menerima rahmat berharap di balik seluruh harapan (bdk. Rm 4:18).

Inilah pengalaman Stanislaus dari Yesus dan Maria, dan Maria Elizabeth Hesselblad, yang hari ini dinyatakan sebagai santo/santa. Mereka tetap dipersatukan secara mendalam dengan sengsara Yesus, dan di dalam mereka kuasa kebangkitan-Nya dinyatakan.

Bacaan Pertama hari Minggu ini dan Bacaan Injil menawarkan kita tanda-tanda kematian dan kebangkitan yang menakjubkan. Bacaan Pertama berlangsung di tangan Nabi Yesaya, Bacaan Injil oleh Yesus. Dalam kedua kasus, mereka melibatkan anak-anak muda dari para janda, yang kemudian dikembalikan hidup kepada para ibu mereka.

Janda dari Sarfat – seorang perempuan yang adalah bukan orang Yahudi, namun telah menerima Nabi Elia di rumahnya – marah dengan nabi Elia dan dengan Allah, karena ketika Elia bertamu di rumahnya anaknya telah jatuh sakit dan meninggal di tangannya. Elia berkata kepadanya : “Berikanlah anakmu itu kepadaku” (1 Raj 17:19). Apa yang ia katakan adalah penting. Kata-katanya memberitahu kita sesuatu tentang jawaban Allah terhadap kematian kita sendiri, namun itu mungkin terjadi. Ia tidak mengatakan: “Tunggu dulu! Atasilah sendiri”. Sebaliknya, ia mengatakan : “Berikanlah kepadaku”. Dan memang nabi Elia mengambil anak itu dan membawanya ke kamar atas, dan di sana, oleh dirinya sendiri, dalam doa “pergumulan dengan Allah”, menunjukkan kepadanya tidak masuk akalnya kematian itu. Tuhan mendengarkan suara Elia, karena pada kenyataannya, Allahlah, yang berbicara dan bertindak dalam pribadi sang nabi. Allahlah yang sedang berbicara melalui Elia, mengatakan kepada perempuan itu : “Berilah Aku anakmu”. Dan sekarang Allahlah yang mengembalikan anak itu hidup kepada ibunya.

Kelembutan Allah sepenuhnya terungkap dalam diri Yesus. Kita mendengar dalam Injil (Luk 7:11-17) tentang “belas kasih yang besar” (ayat 13) yang dirasakan Yesus untuk janda dari Nain di Galilea tersebut, yang sedang menyertai anak satu-satunya, seorang remaja belaka, menuju pemakamannya. Yesus mendekat, menjamah usungan, menghentikan prosesi pemakaman, dan harus membelai wajah ibu yang malang itu yang bermandikan air mata. “Jangan menangis”, Ia berkata kepadanya (Luk 7:13), dengan mengatakan : “Berikanlah anakmu itu kepada-Ku”. Yesus meminta untuk membawa kematian kita ke atas diri-Nya, untuk membebaskan kita daripadanya dan untuk memulihkan kehidupan kita. Kemudian pemuda itu terbangun seolah-olah dari tidur nyenyak dan mulai berbicara. Yesus “menyerahkannya kepada ibunya” (ayat 15). Yesus bukanlah seorang penyihir! Menjelmanya kelembutan Allah; belas kasihan Bapa yang besar sedang bekerja di dalam diri Yesus.

Pengalaman Rasul Paulus juga merupakan semacam kebangkitan. Dari seorang musuh dan penganiaya yang bengis dari orang-orang Kristen, ia menjadi saksi dan pemberita Injil (bdk. Gal 1:13-17). Perubahan radikal ini bukanlah karyanya sendiri, tetapi karunia kerahiman Allah. Allah “memilih”-nya dan “memanggilnya oleh kasih karunia-Nya”. “Di dalam dia”, Allah berkenan menyatakan Putra-Nya, sehingga Paulus boleh memberitakan Kristus di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi (ayat 15-16). Paulus mengatakan bahwa Allah Bapa berkenan menyatakan Putra-Nya tidak hanya kepadanya, tetapi di dalam dirinya, terkesan seolah-olah di dalam dirinya sendiri, daging dan roh, kematian dan kebangkitan Kristus. Akibatnya, Rasul Paulus tidak hanya menjadi seorang utusan, tetapi terutaman seorang saksi.

Begitu pula dengan setiap dan masing-masing orang berdosa. Yesus terus-menerus membuat kemenangan kasih karunia pemberian hidup bersinar. Ia mengatakan kepada Gereja Bunda : “Berikanlah anakmu kepada-Ku”, yang berarti kita semua. Ia mengambil dosa-dosa kita ke atas diri-Nya, membawa mereka pergi dan memberi kita kembali tetap hidup bagi Gereja Bunda. Semua itu terjadi dengan cara khusus selama Tahun Suci Kerahiman ini.

Gereja hari ini mempersembahkan kepada kita dua anak-anaknya yang merupaka saksi keteladan terhadap misteri kebangkitan ini. Keduanya bisa selama-lamanya menyanyikan kata-kata pemazmur : “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari/Ya Tuhan, Allahku, aku berterima kasih selama-lamanya” (Mzm 30:12). Mari kita semua bersama-sama mengatakan: “Aku akan memuji Engkau, Tuhan, karena Engkau telah mengangkatku” (Antifon Mazmur Tanggapan).

****
(Peter Suriadi – Bogor, 5 Juni 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s