HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 6 Juni 2016 : SABDA BAHAGIA MENUNTUN KITA DI JALAN KEHIDUPAN KRISTEN

Schermata_2015-12-21_alle_08.09.40.jpgBacaan Ekaristi : 1Raj 17:1-6; Mzm 121; Mat 5:1-12

Paus Fransiskus mendesak umat Kristen untuk mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam Sabda Bahagia untuk menghindari mengambil jalan keserakahan, kesombongan dan egoisme. Beliau menyampaikan hal tersebut dalam homilinya selama Misa harian Senin pagi 6 Juni 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus menarik inspirasi homilinya dari Bacaan Injil hari itu (Mat 5:1-12) dan mengatakan Sabda Bahagia dapat digunakan sebagai “penunjuk arah” yang bersinar terang di jalan kehidupan Kristen.

Merenungkan Khotbah di Bukit yang terkenal, Paus Fransiskus mengatakan ajaran Yesus pada kesempatan itu tidak menghapus hukum lama; melainkan ia ‘menyempurnakan’-nya dengan membawanya kepada kepenuhannya : “Inilah hukum baru, hukum yang kita sebut ‘Sabda Bahagia’. Ia adalah hukum baru Tuhan untuk kita”. Beliau menggambarkannya sebagai peta jalan untuk kehidupan Kristen yang memberi kita petunjuk-petunjuk untuk bergerak maju di jalan yang benar.

Paus Fransiskus melanjutkan homilinya dengan mengulas kata-kata penginjil Lukas yang juga berbicara tentang Sabda Bahagia dan memerinci apa yang ia sebut ’empat celaka’ : ‘Celakalahkamu, hai kamu yang kaya, yang kenyang, yang sekarang ini tertawa, jika semua orang memuji kamu’. Dan mengingat fakta bahwa berkali-kali beliau telah mengatakan bahwa kekayaan adalah baik, apa yang buruk, Paus Fransiskus mengingatkan kita, adalah ‘kelekatan pada kekayaan’ yang menjadi penyembahan berhala.

“Ini adalah anti-hukum, penunjuk arah yang salah. Tiga langkah licik yang menyebabkan kebinasaan, sama seperti Sabda Bahagia adalah langkah-langkah yang membawa kita maju dalam kehidupan”, beliau berkata. Dan menguraikan pemikiran tersebut Paus Fransiskus mengatakan tiga langkah yang menuntun pada kebinasaan adalah : “kelekatan pada kekayaan, karena aku tidak membutuhkan apapun”; “kesombongan – bahwa semua orang harus berbicara baik tentang aku, membuatku merasa penting, membuat begitu banyak kehebohan … dan aku yakin berada di pihak yang benar”. Beliau mengatakan, juga mengacu perumpamaan tentang orang Farisi yang membenarkan dirinya dan pemungut cukai : “ya Allah, aku berterima kasih karena aku adalah orang Katolik yang demikian baik, tidak seperti sesamaku …”. “Yang ketiga – beliau berkata – adalah kebanggaan, orang-orang yang kenyang dan orang-orang yang tertawa yang menutup hatinya”.

Mengenai seluruh Sabda Bahagia – Paus Fransiskus mengatakan ada satu khususnya : “Saya tidak sedang mengatakan itu adalah kunci untuk seluruh Sabda Bahagia, tetapi itu menyebabkan kita banyak merenung dan itu adalah : Berbahagialah orang yang lemah lembut. Kelemahlembutan”. “Yesus mengatakan tentang diri-Nya sendiri : ‘belajarlah daripada-Ku karena Aku lemah lembut’, Aku rendah hati dan lembut di hati. Menjadi lemah lembut adalah cara yang membawa kita dekat dengan Yesus”, beliau berkata.

“Sikap yang berlawanan, Paus Fransiskus mengakhiri homilinya, selalu menyebabkan permusuhan dan peperangan … banyak hal buruk yang terjadi. Tetapi kelemahlembutan, kelemahlembutan hati yang bukan merupakan kebodohan, bukan : itu sesuatu yang lain. Itu adalah kemampuan untuk memperdalam dan memahami keagungan Allah, dan menyembah-Nya”.

(Peter Suriadi – Bogor, 6 Juni 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-6.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s