11222408_1039524669444883_247051396995936196_n.jpgSaudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Sebelum memulai katekese, saya ingin menyapa sekelompok pasangan suami-istri, yang sedang merayakan hari ulang tahun perkawinan mereka yang kelima puluh. Ini benar-benar merupakan “anggur yang baik” dari keluarga! Hari ulang tahun perkawinan kalian merupakan sebuah kesaksian yang para pengantin baru – yang saya akan sapa kemudian – dan yang orang-orang muda harus pelajari. Ia adalah sebuah kesaksian yang indah. Terima kasih atas kesaksian kalian.

Setelah mengulas beberapa perumpamaan kerahiman, hari ini kita merenungkan mukjizat Yesus yang pertama, yang disebut Penginjil Yohanes “tanda-tanda,” karena Yesus tidak melakukannya untuk membangkitkan keheranan tetapi untuk mengungkapkan kasih Bapa. Yohanes (2:1-11), pada kenyataannya, menceritakan tanda yang pertama dari tanda-tanda yang luar biasa ini, dan ia dilakukan di Kana di Galilea. Ia adalah semacam “pintu masuk” yang padanya kata-kata dan ungkapan-ungkapan diukir, yang menerangi seluruh misteri Kristus dan membuka hati para murid kepada iman. Marilah kita melihat beberapa dari mereka.
Dalam kata pengantar, kita menemukan ungkapan “Yesus dan murid-murid-Nya” (ayat 2). Mereka yang telah dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya. Ia telah mempersatukan diri-Nya dalam sebuah komunitas dan sekarang, sebagai satu keluarga, mereka semua diundang ke pesta perkawinan. Memulai pelayanan publik-Nya pada perkawinan di Kana, Yesus mengejawantahkan diri-Nya sebagai Mempelai Umat Allah, yang diwartakan oleh para nabi, dan Ia mengungkapkan kepada kita kedalaman hubungan yang mempersatukan kita kepada-Nya : ia adalah sebuah Perjanjian yang baru dari kasih. Apa yang menjadi dasar iman kita? – Suatu tindakan kerahiman yang dengannya Yesus telah mempersatukan kita kepada diri-Nya. Dan kehidupan Kristen adalah jawaban terhadap kasih ini, ia seperti kisah dua orang yang sedang jatuh cinta. Allah dan manusia saling bertemu, saling mencari, saling menemukan, saling merayakan dan mengasihi : tepatnya seperti orang yang dicintai dan dikasihi dalam Kidung Agung. Seluruh sisanya datang sebagai konsekuensi dari hubungan ini. Gereja adalah keluarga Yesus yang di dalamnya kasih-Nya dicurahkan; Gereja hendak dan ingin memberikan kasih ini kepada semua orang.
Dipahami juga dalam konteks Perjanjian, adalah pengamatan Bunda Maria : “Mereka kekurangan anggur” (ayat 3). Bagaimana mungkin merayakan perkawinan dan berpesta jika apa yang ditunjukkan para nabi, sebagai unsur khas perjamuan Mesianik, kurang? (bdk. Amos 9:13-14; Yoel 2:24; Yesaya 25:6). Air diperlukan untuk hidup, tetapi anggur mengungkapkan kelimpahan perjamuan dan sukacita perayaan. Ia adalah sebuah pesta perkawinan yang di dalamnya anggur kurang dan pengantin baru dibuat malu oleh hal ini. Tetapi dapatkan kalian membayangkan akhir sebuah pesta perkawinan minum teh? Ia akan menjadi sebuah kejengahan. Anggur diperlukan untuk suatu perayaan. Dengan mengubah air menjadi anggur dalam tempayan-tempayan yang digunakan “untuk ritual penyucian orang Yahudi” (ayat 6), Yesus melakukan sebuah tanda yang mengesankan : Ia mengubah Hukum Musa dalam Injil, pembawa sukacita. Sebagaimana dikatakan Yohanes sendiri di tempat lain : “Hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (1:17).
Kata-kata Maria kepada para pelayan memahkotai gambar perkawinan : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (ayat 5). Ini sukar dimengerti : mereka adalah kata-kata terakhirnya yang dilaporkan oleh Injil : mereka adalah warisannya yang ia berikan kepada kita semua. Hari ini juga Bunda Maria mengatakan kepada kita semua : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu! – Yesus mengatakan kepada kalian – buatlah itu”. Ini adalah warisan yang telah ia tinggalkan kepada kita : indahnya! Itu adalah suatu ungkapan yang mengingatkan rumusan iman yang digunakan oleh orang-orang Israel di Sinai dalam menjawab janji-janji Perjanjian : “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan!” (Kel 19:8). Dan memang di Kana para pelayan taat. “Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu : ‘Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air’. Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka : ‘Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta’. Lalu mereka pun membawanya” (ayat 7-8). Dalam upacara perkawinan ini Perjanjian Baru benar-benar ditetapkan dan untuk para pelayan Tuhan, yaitu seluruh Gereja dipercayakan perutusan baru : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”. Melayani Tuhan berarti mendengarkan dan mengamalkan Sabda-Nya. Ini adalah rekomendasi sederhana namun penting dari Bunda Yesus dan ini adalah program kehidupan Kristen. Mengambil dari tempayan berarti bagi kita masing-masing mempercayakan diri kita kepada Sabda Allah untuk mengalami kemujarabannya dalam kehidupan. Kemudian, bersama-sama dengan pemimpin pesta yang mengecap air yang menjadi anggur, kita juga dapat berseru : “Engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang” (ayat 10). Ya, Tuhan terus menyimpan anggur yang baik itu untuk keselamatan kita, sama seperti ia terus menyembur dari lambung Tuhan yang tertikam.

Penutup kisah berbunyi dalam sebuah kalimat : “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (ayat 11). Perkawinan di Kana jauh lebih dari sekedar kisah mukjizat Yesus yang pertama. Sebagai sebuah peti mati, Ia menyimpan rahasia pribadi-Nya dan tujuan kedatangan-Nya : Sang Mempelai yang menanti memulai pesta perkawinan yang tergenapi dalam Misteri Paskah. Dalam pesta perkawina tersebut, Yesus mempersatukan murid-murid-Nya kepada-Nya dengan sebuah Perjanjian yang baru dan menentukan. Di Kana murid-murid Yesus menjadi keluarga-Nya dan di Kana iman Gereja lahir. Kita semua diundang kepada pesta perkawinan itu, karena anggur baru tidak lagi kurang!

[Sambutan dalam bahasa Italia]

Para peziarah berbahasa Italia yang terkasih : selamat datang!

Saya senang menerima peziarahan Keuskupan Asti, yang didampingi oleh sang Uskup, Monsignor Ravinale; para atlet muda Peziarahan Macerata-Loreto dengan “obor perdamaian”, yang didampingi oleh Monsignor Marconi dan Monsignor Vecerrica; Lembaga “Migran Santo Fransiskus” Keuskupan Siena; kelompok Pedesaan Anak-anak S.O.S. dari Ostuni dan UNITALSI dari Tuscany. Saya berharap agar untuk kalian semua pertemuan dengan Penerus Santo Petrus ini membangkitkan sebuah komitmen yang diperbarui dalam mendukung perdamaian dan kesetiakawanan terhadap orang-orang yang paling membutuhkan.

Dengan kasih sayang khusus, saya menyambut Lembaga Internasional Universitas-universitas Lasalle; delegasi Serikat Santo Vinsensius a Paulo, yang berkumpul dalam Sidang Umum, serta delegasi White Fathers, selama Bab Umum mereka. Saya menasihati kalian untuk menghidupi dengan sukacita perutusan dalam kesetiaan kepada Injil dan kepada karisma-karisma kalian masing-masing.

Sebuah sambutan khusus tertuju kepada Aksi Katolik Italia, yang meluncurkan kembali hari ini pengalaman doa “Satu Menit untuk Perdamaian”, yang berpuncak pada Perayaan Ekaristi di Basilika Roh Kudus di Sassia.

Saya menasihati orang-orang muda, orang-orang sakit dan para pengantin baru untuk berdoa dengan intensitas khusus kepada Hati Kudus Yesus dan Maria sehingga mereka mengajarkan kita untuk mengasihi Allah dan sesama kita dengan pengabdian yang penuh.

[Sambutan dalam bahasa Inggris]

[Penutur]

Saudara dan saudari yang terkasih : Dalam katekese berkelanjutan kita untuk Tahun Suci Kerahiman ini, kita sekarang meninjau mukjizat Yesus yang pertama, perubahan air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Santo Yohanes dengan tepat menyebut mukjizat-mukjizat ini “tanda-tanda”, karena oleh mereka Tuhan mengungkapkan kasih Bapa yang penuh kerahiman. Pilihan Yesus akan sebuah pesta perkawinanan menunjuk makna yang lebih mendalam dari mukjizat ini. Ia datang untuk meresmikan suatu tanda perjanjian baru, perjamuan mesianik yang dijanjikan untuk akhir zaman, di mana Ia adalah Sang Mempelai Laki-laki dan Gereja sang mempelai perempuan-Nya. Dengan mengubah air yang disimpan untuk pemurnian ritual menjadi anggur baru, Yesus memberi tanda bahwa Ia adalah penggenapan Hukum Taurat dan para nabi. Perintah Maria kepada para pelayan – “”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” – dapat berfungsi sebagai sebuah program kehidupan bagi Gereja. Kita dipanggil secara terus-menerus untuk memperbaharui kasih kita kepada Tuhan, dan mendapatkan anggur yang baru, kehidupan yang baru, dari luka-luka-Nya yang menyelamatkan. Mukjizat di Kana mengingatkan kita bahwa kita diundang, sebagai anggota-anggota keluarga Tuhan, Gereja, untuk mendekat kepada-Nya dalam iman, dan dengan demikian untuk ambil bagian dalam sukacita pesta perkawinan dari perjanjian yang baru dan kekal.

[Penutur]
Saya menyambut para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiendi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Inggris, Skotlandia, Prancis, Belanda, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Amerika Serikat. Dengan keinginan baik penuh doa agar Yubileum Kerahiman ini dapat menjadi sebuah saat rahmat dan pembaruan rohani untuk kalian dan keluarga-keluarga kalian, saya memohonkan atas kalian semua sukacita dan kedamaian dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

***
(Peter Suriadi – Bogor, 8 Juni 2016; http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/06/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_8.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s