HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 9 Juni 2016 : MEREKA YANG MENGATAKAN “INI ATAU TIDAK SAMA SEKALI” ADALAH SESAT, BUKAN KATOLIK

11222408_1039524669444883_247051396995936196_n.jpgBacaan Ekaristi : 1Raj 18:41-46; Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13; Mat 5:20-26

Dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi, 9 Juni 2016, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap kekakuan yang berlebihan. Beliau mengatakan mereka yang berada di dalam Gereja yang memberitahu kita “ini atau tidak sama sekali” adalah sesat dan bukan Katolik.

Dalam homilinya Paus Fransiskus merenungkan bahaya yang disebabkan oleh para pembesar Gereja yang melakukan kebalikan dari apa yang mereka khotbahkan dan mendesak mereka untuk membebaskan diri dari idealisme kaku yang menghalangi pendamaian antara satu sama lain.

Mengacu pada peringatan Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa jika hidup keagamaan mereka tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya mereka tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, Paus Fransiskus menekankan pentingnya realisme Kristen. Yesus,Paus Fransiskus mengatakan, meminta kita untuk melampaui hukum serta mengasihi Allah dan sesama, menekankan bahwa setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.

Paus Fransiskus mengatakan kita memiliki “kosakata yang sangat kreatif untuk menghina orang lain” tetapi menekankan bahwa penghinaan tersebut adalah sebuah dosa dan mirip dengan membunuh karena mereka sedang memberikan tamparan kepada jiwa saudara kita dan kepada martabatnya. Mencatat kehadiran beberapa anak pada Misa, Paus Fransiskus mendesak mereka untuk tetap tenang, mengatakan pemberitaan seorang anak dalam suatu gereja jauh lebih indah daripada pemberitaan seorang imam, uskup atau Paus.

Yesus, kata Paus Fransiskus, mengimbau umatnya yang bingung memandang ke luar dan berjalan maju. Tetapi pada saat yang sama, Kristus memperingatkan tentang bahaya yang disebabkan terhadap umat Allah oleh orang-orang Kristen yang tidak mengikuti ajaran-ajaran mereka sendiri.

“Berapa kali kita di dalam Gereja mendengar hal-hal ini : berapa kali! ‘Tetapi imam itu, laki-laki itu atau perempuan itu dari Aksi Katolik, uskup itu, atau Paus itu mengatakan kepada kita bahwa kita harus melakukan hal ini dengan cara ini!’ dan kemudian mereka melakukan yang sebaliknya. Ini adalah skandal yang melukai umat dan mencegah umat Allah bertumbuh dan berjalan maju. Itu tidak membebaskan mereka. Selain itu, orang-orang ini telah melihat kekakuan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu serta ketika seorang nabi datang untuk memberi mereka sedikit sukacita, mereka (para ahli Taurat dan orang-orang Farisi) menganiaya mereka dan bahkan membunuh mereka; tidak ada tempat untuk para nabi di sana. Dan Yesus berkata kepada mereka, kepada orang-orang Farisi : ‘Engkau telah membunuh nabi-nabi, engkau telah menganiaya nabi-nabi : mereka yang sedang membawa udara segar'”.

Paus Fransiskus mengimbau para pendengarnya untuk mengingat bagaimana permintaan Yesus untuk kemurahan hati dan kekudusan semuanya tentang berjalan maju dan selalu melihat keluar melampaui diri kita sendiri. Ini, beliau menjelaskan, membebaskan kita dari kekakuan hukum dan dari sebuah idealisme yang merugikan kita. Yesus tahu benar kodrat kita, kata Paus Fransiskus, dan meminta kita untuk mengusahakan pendamaian setiap kali kita telah bertengkar dengan seseorang. Ia juga mengajarkan kita sebuah realisme yang sehat, mengatakan ada begitu berkali-kali “kita tidak bisa sempurna tetapi melaksanakan setidaknya apa yang dapat kalian lakukan dan menyudahi perselisihan kalian”.

“Inilah realisme yang sehat dari Gereja Katolik : Gereja tidak pernah mengajarkan kita ‘ini atau itu’. Itu bukan Katolik. Gereja mengatakan kepada kita : ‘ini dan itu’. ‘Mengupayakan perfeksionisme : berdamailah dengan saudaramu. Jangan menghinanya. Kasihilah dia. Dan jika ada masalah, setidaknya sudahilah perbedaan-perbedaanmu sehingga perang tidak pecah’. Ini (adalah) realisme sehat kekatolikan. Bukanlah Katolik (mengatakan) ‘ini atau tidak sama sekali’ : Ini bukan Katolik, ini sesat. Yesus selalu tahu bagaimana menyertai kita, Ia memberi kita cita-cita, Ia menyertai kita menuju cita-cita, Ia membebaskan kita dari belenggu kekakuan hukum dan memberitahu kita : ‘Tetapi lakukanlah itu hingga ke titik yang kamu mampu’. Dan Ia memahami kita sangat baik. Ia adalah Tuhan kita dan ini adalah apa yang Ia ajarkan kepada kita”.

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan mengingatkan bagaimana Yesus mengimbau kita untuk menghindari kemunafikan dan melakukan apa yang kita bisa dan setidaknya menghindari perselisihan di antara diri kita sendiri dengan mencapai kesepakatan.

“Dan izinkan saya menggunakan kata ini yang tampaknya agak janggal : itu adalah kesucian kecil negosiasi. ‘Jadi, aku tidak bisa melakukan semuanya tetapi aku ingin melakukan semuanya, oleh karena itu aku mencapai kesepakatan denganmu, setidaknya kita tidak memperdagangkan penghinaan, kita tidak berperang dan kita semua bisa hidup dalam kedamaian’. Yesus adalah orang besar! Ia membebaskan kita dari segala penderitaan kita dan juga dari idealisme itu yang bukan bersifat Katolik. Marilah kita mohon Tuhan kita untuk mengajarkan kita, pertama-tama melarikan diri dari segala kekakuan tetapi juga berjalan keluar melampaui diri kita, sehingga kita bisa menyembah dan memuji Allah yang mengajarkan kita untuk didamaikan di antara diri kita sendiri dan yang juga mengajarkan kita untuk mencapai kesepakatan hingga titik yang kita mampu lakukan”.

(Peter Suriadi – Bogor, 9 Juni 2016; http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-9.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s