Pater Paulus Lie OFM Conv

Pada 30  April  2017 adalah Pesta Emas Imamat Pater Paulus Lie OFM Conv. beliau adalah orang Bogor pertama yang menjadi Imam. Ia Imam pertama dari paroki Sukasari sekaligus Imam pertama dari keuskupan Bogor. Paulus Lie adalah anak bungsu dari 11 bersaudara kakaknya 5 laki-laki dan 5 perempuan dari FOTO UTAMApasangan Lie Lip Tjhong (alm) dan Lioe Lian Tjauw (alm). Tapi sekarang tinggal 4 bersaudara, pada jaman penjajahan Belanda Lie Lip Tjhong berlayar dari Tiongkok ke Indonesia mendarat di sungai Sambas, Kalimantan. Di Pontianak  ia bertemu dengan Lioe Lian Tjauw yang waktu itu sudah beragama Katolik dan menikah secara Katolik. Saat Pater Paulus Lie lahir 12 Juli 1933, lalu 3 hari kemudian ia dibaptis oleh Pastor Hubrecht SJ. Pada umur 1 tahun Paulus Lie sudah ditinggal mamanya yang wafat terlebih dahulu. Sehingga ia tidak tahu persis bagaimana rupa wajah mamahnya.  Pada saat Perang dunia ke II Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, saat itu semua sekolah misi ditutup. Lalu setelah jepang pergi sekolah dibuka kembali.

Saat Jepang datang  Paulus Lie masih duduk di kelas 2 SD, sekolah tutup sampai  3 tahun, kemudian Jepang pergi pada Tahun 1945.  Paulus Lie menamatkan SD di Sekolah milik pemerintah di SD Tanjakan Empang, kemudian waktu SMP ia  pindah ke Sekolah Budi Mulya.  Benih-benih panggilan sudah ia rasakan sejak duduk di SMP Budi Mulya, Bogor tahun 1950-1952. Saat pelajaran agama  waktu itu  ada seorang Bruder yang mengatakan siapa tahu salah satu dari kalian  ada yang terpanggil.  Sampai dirumah kata-kata bruder tadi terus mengusik batinnya. Ia merasakan ada panggilan untuk menjadi religius,  meski ia merasa minder karena pada saat itu banyak orang beranggapan orang kulit putih yang menjadi Pastor atau Bruder itu pinter-pinter sementara ia merasa bodoh.

IMG_4918

Sebelum Perayaan Ekaristi Peringatan 50 Tahun Imamat dimulai (kiri ke kanan) Pastor F.X. Sutanta, Pastor Frans Mulyadi, Pastor Paulus Lie, Pastor Agustinus Surianto dan Pastor Markus Lukas di Gereja St. Fransiskus Asisi Sukasari (30/4)

Sampai akhirnya ia pergi ke kamar pengakuan dan bertanya kepada Romo saat itu  dan disarankan untuk pergi ke Pastoran. Disitu ia mulai merasakan bahwa panggilan itu mempunyai bentuk yang nyata. Setelah tamat SMP ia mau melanjutkan sekolah ke SMA tapi orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai. Kebetulan pada saat itu ada promosi dari Pastor-Pastor Conventual yang berpesan bila Pater Paulus Lie punya niat belajar lanjut, Pastor-Pastor Conventual mau membantu membiayai. Sampai akhirnya tahun 1956 ia pergi meninggalkan rumah. Selama 3 tahun papanya tidak juga mau mengijinkan akan niatnya untuk menjadi imam. Waktu ia minta ijin kepada papanya, saat itu papanya bilang “ngaco, ngapain jadi Pastor?” malah ia disuruh cari anak gadis dan menikah. Sebenarnya waktu itu Bapa pengakuan  Paulus Lie sudah kerumah tapi papanya juga tidak mau menyetujui. Selama 3 tahun ia konsultasi dengan bapak pengakuan, lalu oleh bapa pengakuan ia disarankan pergi ke Jakarta untuk menemui Bapa Uskup di Katedral Jakarta (waktu itu belum ada Keuskupan Bogor masih ikut Keuskupan Jakarta).  “Padahal saya waktu itu belum pernah ke Jakarta”, ungkap  Paulus Lie.

Saat datang ke  Keuskupan Jakarta, ia sempat ditolak olehya sekretaris Uskup , namun kemudian ia ditolong oleh Pastor paroki Katedral Jakarta untuk bertemu dengan Bpk Uskup Agung Jakarta Mgr Adrianus Djajasapoetro SJ, berkenan menemui  Paulus Lie dan menyarankan untuk pulang ke Bogor dan minta bantuan dari Pastor paroki. Pater Paulus Lie pada saat itu merasakan Bapa Uskup waktu itu sangat bijaksana, kebapaan. Nasehat kebapakan dari Mgr Adrianus Djajaseputra SJ membuahkan semangat kembali dari Paulus Lie.  Setelah Paulus Lie kembali ke Bogor Pastor Paroki Bogor memperbolehkan Paulus Lie tinggal sementara di Paroki sambil menunggu masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. “Semua sudah saya siapkan waktu itu dan dalam hati saya berbicara kalau hari ini tidak berangkat, kapan lagi?” ungkapnya.  “Sampai kakak saya yang laki-laki  menangis, tapi saya berpikir kalau saya kalah ya sudah tidak bakalan bisa. Sekarang atau tidak pernah, akhirnya saya berangkat”, tegas Pater Paulus Lie.  Papanya  menangis ketika  melihat  Paulus pergi meninggalkan rumah menuju ke Pastoran Gereja Beatae Mariae Virginis (BMV) sekarang Katedral Bogor untuk tinggal di sana sementara waktu.  Karena pastoran deket dengan rumahnya yang berada di Suryakencana. “Kalau kakak perempuan saya ke gereja suka bilang ke saya, eh papa marah tuh”, ujarnya.  Disitu ia merasakan tantangan yang cukup berat.

Berangkat ke Roma

Setelah itu ia melanjutkan di Seminari Menengah Cadas Hikmat  tahun 1956-1960.Di seminari Cadas Hikmat ia belajar di Seminari bersama P Jan Sunyata OSC, P Yosep Souw OSC dan P Anton Liem Pr.  Setelah tamat Seminari Menengah ia kemudian pergi ke Italy untuk belajar bahasa selama 2 tahun (1960-1962)  .  Akhirnya Pater Paulus Lie pergi ke Roma,  di kota Assisi untuk belajar bahasa Italy. Tahun 1962 ia diterima menjadi  Novis OFM Conventual  dan kaul kekal di ucapkan pada tahun 1966. Fr Paulus Lie OFM Conc ditahbiskan menjadi Imam pada 30 April 1967 di Colegial Coventual di Assisi Roma.

Setelah ditahbis menjadi imam tahun 1967-1969 kemudian oleh pimpinannya  Pater Paulus Lie OFM Conv diminta pulang ke Indonesia untuk mengurus kewarganegaraan WNI . Waktu itu status kewarganegaraan Pater Paulus Lie OFM Conv masih WNA. Di Indonesia ia sempat bertugas di Sumatera Utara dan juga tinggal beberapa bulan di katedral Jakarta.

Menjadi misionaris di Jerman

Tahun 1970 setelah menunggu beberapa tahun status kewarganegaraan belum juga selesai, maka Pimpinan ordo OFM Conv memberikan kebebasan bagi Pater Paulus Lie OFM Conv untuk memilih medan karya,   Jermanadalah lading perutusan yang dipilihnya,  di kota Würzburg di Biara Conventual bertugas selama  6 tahun disana, menjalankan tugas untuk memimpin misa dan di kamar pengakuan sambil belajar bahasa Jerman.   Setelah 6 tahun kemudian ia pindah tugas ke Keuskupan Agung Bamberg selama 8 tahun.  Pada Tahun 1977 mendapat  tugas menjadi  pastor Paroki di St. Petrus Pulus  selama 3 tahun. Lalu pindah ke Paroki St. Leonardus selama 3 tahun dan pindah ke Keuskupan Aachen  selama 3 tahun. Setelah tidak bertugas di Paroki kemudian ia dipindahkan menjadi Pastor Rumah Sakit Maria Penolong  tahun 1988 -1994 masih di Keuskupan Aachen. Selama 7 tahun bertugas ia bertugas di Rumah Sakit. Seperti kaum religius pada umumnya, dalam menanggapi panggilannya Pater Paulus Lie juga merasakan jatuh bangun hal itu ia rasakan di tahun 1991-1992 dimana ia harus bergulat dengan berbagai tantangan menjadi imam. Sampai akhrnya ia mampu melewatinya dengan berpasrah penuh kepada Bunda Maria. Baginya panggilan hidup itu seperti garis merah walaupun bergelombang tapi tetap lurus. Ia merasakan Tuhan selalu mengiringi jalan hidupnya. Ia percaya akan rencana Tuhan. Setelah itu pada tahun 1994 ia dipindah tugaskan ke tempat ziarah di Kevelaer tempat ziarah terbesar di daerah Jerman Utara selama 12 tahun, sambil membantu paroki-paroki yang kekurangan tenaga Pastor. Sampai pada tahun 2004 saat memimpin misa ia sempat terkena serangan Stroke sampai 12 jam tidak sadarkan diri. Tetapi apa yang terjadi sampai hari ini ia masih dipakai oleh Tuhan. Sampai akhirnya Pater Paulus Lie  meminta pensiun di tahun 2006-2007 dan memilih tinggal menyendiri di sebuah Paviliun sewaan di kota Freígerícht dekat dengan Frankfrut hidup dari uang pensiun yang diberikan oleh pemerintah Jerman. Sesungguhnya Ordo OFM Conv sampai saat ini masih tetap meminta Pater Paulus Lie OFM Conv  ke Belanda tapi ia tetap  tidak mau pulang ke biara induk di Belanda dan memilih untuk tinggal menyendiri sambil sekali seminggu menemani sebuah kelompok akhir jaman. Kedatangannya ke Bogor  kali ini selain merayakan pesta emas imamat bersama keluarga juga untuk menumbuhkan semangat panggilan di kalangan kaum muda.

IMG_5303

Perayaan 50 Tahun Imamat Paulus Lie OFM Conv di Pastoran Paroki St. Fransiskus Asisi (30/4)

IMG_5271Misa peringatan Pesta Emas Imamat di rayakan dengan sederhana dengan didampingi oleh Pastor Markus Lukas, Pastor Agustinus Surianto, Pastor FX Sutanto dan juga Pastor Frans Mulyadi (keponakan dari  Paulus Lie OFM Conv) dan di hadiri oleh keluarga besar Paulus Lie OFM Conv dan segenap umat paroki Sukasari. Semoga Misa Pesta Emas Imamat ini membuahkan semangat panggilan bagi putra-putra di keuskupan Bogor.

A. Sudarmanto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s