HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 19 Mei 2017 : KETIKA AJARAN SEJATI MEMPERSATUKAN; IDEOLOGI MEMECAH BELAH

A1

Bacaan Ekaristi : Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17.

Ajaran sejati mempersatukan; ideologi memecah belah. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 19 Mei 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Paus Fransiskus mendasarkan permenungannya pada apa yang disebut Konsili Yerusalem yang, sekitar tahun 49 M, memutuskan bahwa orang-orang kafir yang bertobat menjadi orang-orang Kristen tidak harus disunat.

Bapa Suci mengulas Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kis 15:22-31). Beliau mencatat bahwa bahkan dalam jemaat kristiani perdana pun “ada kecemburuan, perebutan kekuasaan, liku-liku tertentu yang darinya ingin mendapatkan keuntungan dan membeli kekuasaan”. Selalu ada masalah, beliau berkata : “Kita adalah manusia, kita adalah orang-orang berdosa” dan ada kesulitan-kesulitan, bahkan dalam Gereja. Tetapi menjadi orang-orang berdosa menyebabkan kerendahan hati dan mendekati Tuhan, sebagai Sang Juruselamat yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Berkenaan dengan orang-orang kafir yang dipanggil Roh untuk menjadi orang-orang kristiani, Bapa Suci mengingatkan bahwa, dalam Bacaan Pertama, para rasul dan para penatua memilih beberapa orang untuk pergi ke Antiokhia bersama dengan Paulus dan Barnabas. Bacaan tersebut menggambarkan dua macam orang : orang-orang yang “berdiskusi keras” namun dengan “semangat yang baik”, di satu sisi; dan orang-orang yang “menaburkan kerancuan” :

“Kelompok para rasul yang ingin mendiskusikan masalah ini, dan kelompok lainnya yang beranjak dan menciptakan masalah. Mereka memecah belah, mereka memecah belah Gereja, mereka mengatakan bahwa apa yang diwartakan para Rasul bukanlah apa yang dikatakan Yesus, bahwa itu bukanlah kebenaran”.

Para rasul mendiskusikan situasi di antara mereka sendiri, dan pada akhirnya mencapai sebuah kesepakatan:

“Tetapi itu bukan kesepakatan politik; ilham Roh Kuduslah yang membawa mereka mengatakan : tidak ada sesuatu, tidak ada kebutuhan. Hanya mereka yang mengatakan : janganlah makan daging pada saat itu, daging dikorbankan kepada berhala-berhala, karena itu adalah persekutuan dengan berhala-berhala; menjauhkan diri dari darah, dari hewan yang tercekik, dan dari kesatuan yang tidak sah”.

Paus Fransiskus menunjuk pada “kebebasan Roh” yang menyebabkan kesepakatan : maka, beliau mengatakan, orang-orang kafir diizinkan memasuki Gereja tanpa harus menjalani penyunatan. Itulah pokok “Konsili pertama” Gereja : Roh Kudus dan mereka, Paus bersama para Uskup, seluruhnya bersama-sama, berkumpul bersama “untuk menjelaskan ajaran ini”, dan kemudian, selama berabad-abad – seperti pada Konsili Efesus atau pada Konsili Vatikan II – sehingga “apa yang dikatakan Yesus dalam Injil, apa yang dimaksudkan semangat Injil, dapat dipahami dengan baik”:

“Tetapi selalu ada orang-orang yang tanpa komisi apapun pergi keluar mengganggu jemaat kristiani dengan khotbah-khotbah yang mengacaukan jiwa : ‘Eh, tidak, seseorang yang mengatakan itu adalah bida’ah, kalian tidak bisa mengatakan ini, atau itu; inilah ajaran Gereja’. Dan mereka fanatik terhadap benda-benda yang tidak jelas, seperti orang-orang fanatik yang pergi ke sana menabur ilalang untuk memecah belah jemaat kristiani. Dan inilah masalahnya : ketika ajaran Gereja, ajaran yang berasal dari Injil, ajaran yang diilhami Roh Kudus – karena Yesus mengatakan, ‘Ia akan mengajar kita dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Aku ajarkan’ – [ketika] ajaran itu menjadi sebuah ideologi. Dan inilah kekeliruan besar orang-orang itu”.

Orang-orang ini, Paus Fransiskus menjelaskan, “bukanlah orang-orang beriman, mereka telah terideologi”, mereka memiliki sebuah ideologi yang menutup hati terhadap karya Roh Kudus. Para Rasul, di sisi lain, tentu saja mendiskusikan berbagai hal dengan kuat, namun mereka tidak terideologi : “Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap apa yang dikatakan Roh Kudus. Dan setelah diskusi ‘itu terasa baik bagi Roh Kudus dan bagi kita”.

Saran terakhir Paus Fransiskus adalah jangan takut menghadapi “pendapat para ideolog ajaran”. Gereja, menurut beliau, memiliki “Kuasa Mengajarnya yang pantas, Kuasa Mengajar Paus, Kuasa Mengajar para Uskup, Kuasa Mengajar Konsili-konsili”, dan kita harus menyusuri jalan “yang berasal dari pewartaan Yesus, serta dari pengajaran dan bantuan Roh Kudus”, yang “selalu terbuka, selalu cuma-cuma”, karena “ajaran mempersatukan, Konsili-konsili mempersatukan jemaat kristiani, sementara, di sisi lain, “ideologi memecah belah”.

Sumber : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-19.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s