HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 4 Juni 2017 : UMAT YANG BARU DAN HATI YANG BARU ADALAH KEBARUAN YANG DIBAWA OLEH ROH KUDUS

A1

Bacaan Ekaristi : Kis 2:1-11; Mzm 104:1.24.29-30.31.34; 1Kor 12:3b-7.12-13; Yoh 20:19-23

Hari ini akhir Masa Paskah, lima puluh hari yang, dari kebangkitan Yesus sampai hari Pentakosta, ditandai dengan cara tertentu oleh kehadiran Roh Kudus. Roh Kudus pada kenyataannya adalah karunia Paskah yang sangat istimewa. Dialah Roh Pencipta, yang selalu menyebabkan hal-hal baru. Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan kepada kita dua hal baru tersebut. Dalam Bacaan Pertama (Kis 2:1-11), Roh Kudus menjadikan para murid sebuah umat yang baru; dalam Bacaan Injil (Yoh 20:19-23), Ia menciptakan dalam diri para murid sebuah hati yang baru.

Sebuah umat yang baru. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun dari surga, dalam bentuk “lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain” (Kis 2:3-4). Beginilah sabda Allah menggambarkan pekerjaan Roh Kudus : pertama, Ia hinggap pada masing-masing orang dan kemudian membawa mereka semua bersama-sama dalam pengikutsertaan. Kepada masing-masing orang Ia memberi sebuah karunia, dan kemudian mengumpulkan mereka semua menjadi satu kesatuan. Dengan kata lain, Roh Kudus yang sama menciptakan keragaman dan kesatuan, serta dengan cara-cara ini membentuk sebuah umat yang baru, beragam dan dipersatukan : Gereja semesta. Pertama, dengan cara yang berdaya cipta dan tak terduga, Ia menghasilkan keragaman, karena di setiap zaman Ia menyebabkan karisma-karisma yang baru dan beraneka ragam berkembang. Kemudian Ia menghasilkan kesatuan : Ia menggabungkan, mengumpulkan dan memulihkan keselarasan : “Dengan kehadiran-Nya dan kegiatan-Nya, Roh Kudus menarik ke dalam kesatuan berbagai roh yang terpisah” (Sirilus dari Aleksandria, Ulasan tentang Injil Yohanes, XI, 11). Ia melakukannya dengan cara yang mengakibatkan kesatuan sejati, sesuai kehendak Allah, sebuah kesatuan yang tidak serbaseragam, namun sebuah kesatuan dalam perbedaan.

Agar hal ini terjadi, kita perlu menghindari dua godaan yang berulang. Godaan pertama mencari keragaman tanpa kesatuan. Hal ini terjadi ketika kita ingin terpisah, ketika kita berpihak dan membentuk pemihakan, ketika kita mengadopsi posisi yang kaku dan kedap udara, ketika kita terkunci di dalam gagasan dan cara kita melakukan sesuatu, mungkin bahkan berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang lain, atau selalu di pihak yang benar. Bila hal ini terjadi, kita memilih berpihak, termasuk dalam kelompok ini atau itu ketimbang menjadi anggota Gereja. Kita menjadi pendukung setia di satu sisi, bukan saudara dan saudari dalam Roh yang satu. Kita menjadi umat kristiani “sayap kanan” atau “sayap kiri”, ketimbang berada di pihak Yesus, para penjaga masa lampau yang keras hati atau garda terdepan masa mendatang ketimbang menjadi anak-anak Gereja yang rendah hati dan bersyukur. Hasilnya adalah keragaman tanpa kesatuan. Godaan yang berkebalikan adalah godaan mengusahakan kesatuan tanpa keragaman. Di sini, kesatuan menjadi keserbaseragaman, di mana setiap orang harus melakukan semuanya bersama-sama dan dengan cara yang sama, selalu berpikir sama. Kesatuan akhirnya menjadi keserbasamaan dan tidak ada lagi kemerdekaan. Tetapi, seperti yang dikatakan Santo Paulus, “di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17).

Jadi doa yang kita panjatkan kepada Roh Kudus adalah rahmat untuk menerima kesatuan-Nya, sebuah pandangan sekilas yang, mengesampingkan kecenderungan kesukaan pribadi, merangkul dan mengasihi Gereja-Nya, Gereja kita. Itu adalah menerima tanggung jawab untuk kesatuan di antara semua orang, meniadakan pergunjingan yang menabur ilalang perselisihan dan racun kedengkian, karena menjadi pria dan wanita Gereja berarti menjadi pria dan wanita persekutuan. Itu juga memohonkan hati yang merasakan bahwa Gereja adalah Bunda kita dan rumah kita, sebuah rumah yang terbuka dan ramah di mana sukacita Roh Kus yang berlipat ganda dibagikan.

Sekarang kita sampai pada hal baru yang kedua yang dibawa oleh Roh Kudus : sebuah hati yang baru. Ketika Yesus yang bangkit pertama kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, Ia berkata kepada mereka : “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:22-23). Yesus tidak mengutuk mereka karena telah menyangkal dan meninggalkan-Nya selama sengsara-Nya, tetapi malahan menganugerahkan mereka roh pengampunan. Roh Kudus adalah karunia pertama dari Tuhan yang bangkit, dan diberikan terutama untuk pengampunan dosa. Di sini kita melihat awal Gereja, perekat yang mempersatukan kita, semen yang mengikat batu bata rumah : pengampunan. Karena pengampunan adalah karunia untuk tingkatan yang tertinggi; ia adalah kasih yang terbesar. Ia melanggengkan kesatuan terlepas dari semuanya, mencegah keruntuhan, serta memperkokoh dan memperkuat. Pengampunan membebaskan hati kita dan memungkinkan kita untuk memulai dari awal. Pengampunan memberikan pengharapan; tanpa pengampunan, Gereja tidak dibangun.

Roh pengampunan menyelesaikan segala sesuatunya dalam keselarasan, dan membawa kita untuk menolak setiap cara lainnya : cara penghakiman yang tergesa-gesa, jalan buntu menutup setiap pintu, jalan satu arah mengecam orang lain. Sebaliknya, Roh Kudus meminta kita untuk mengambil jalan pengampunan dua arah menerima dan memberi, jalan dua arah kerahiman ilahi yang menjadikan kasih kepada sesama, cinta kasih sebagai “satu-satunya kriteria yang dengannya segala sesuatu harus dilakukan atau tidak, berubah atau tidak” (Isaac dari Stella, Or. 31). Marilah kita memohonkan rahmat untuk membuat roman muka Bunda Gereja kita semakin cantik, membiarkan diri kita diperbarui dengan pengampunan dan perbaikan diri. Baru setelah itu kita bisa memperbaiki orang lain dalam cinta kasih.

Roh Kudus adalah api cinta yang sedang menyala di dalam Gereja dan di dalam hati kita, bahkan meskipun kita sering menutupi-Nya dengan abu dosa-dosa kita. Marilah kita memohon kepada-Nya : “Roh Allah, Tuhan, yang tinggal di dalam hatiku dan di dalam hati Gereja, bimbinglah dan bentuklah dia dalam keragaman, datanglah! Seperti air, kita membutuhkan engkau untuk hidup. Turunlah ke atas kami secara baru, ajarkanlah kami kesatuan, perbaruilah hati kami dan ajarilah kami untuk mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi kami, mengampuni sebagaimana Engkau mengampuni kami. Amin”.

Sumber : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s