HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 12 Juni 2017 : DUA LANGKAH AGAR KITA DAPAT MENERIMA PENGHIBURAN ALLAH

A1.jpgBacaan Ekaristi : 2Kor. 1:1-7; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 5:1-12

Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 12 Juni 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa agar dapat menerima penghiburan Allah, dua langkah harus diambil. Pertama, kita harus memiliki kerendahan hati untuk mengenali keterbatasan-keterbatasan kita. Kedua, tidak bersifat narsis, dan bahkan memberi penghiburan kepada orang lain.

Bacaan Pertama (2Kor 1:1-7) mengajarkan kita bahwa penghiburan – Paus Fransiskus mengatakan – tidak “dapat berdiri sendiri”. “Pengalaman penghiburan, yang merupakan sebuah pengalaman rohani, selalu membutuhkan ‘orang lain’ agar menjadi sepenuhnya : tak seorang pun yang bisa menghibur dirinya sendiri, tak seorang pun – dan siapa pun yang mencoba melakukannya akhirnya melihat ke dalam cermin – menatap cermin dan mencoba untuk ‘mendandani dirinya’. Ia ‘terhibur’ dengan hal-hal tertutup ini yang tidak membiarkan ia tumbuh, dan udara yang ia hirup adalah udara rujuk diri yang bersifat narsis. Inilah penghiburan yang didandani yang tidak membiarkan seseorang tumbuh – dan bukanlah penghiburan [yang sesungguhnya], karena penghiburan tersebut tertutup, tidak memiliki kesederhanaan”.

Ada begitu banyak orang di dalam Injil, kata Paus Fransiskus. Misalnya, para ahli Taurat, “penuh dengan kecukupan mereka sendiri”, Epulon yang kaya yang mengadakan sebuah pesta pada liburan mengira ia sangat terhibur, tetapi terutama untuk mengungkapkan sikap ini dengan lebih baik adalah doa orang Farisi di depan altar, yang mengatakan : “Syukurlah karena aku tidak seperti orang lain”. “Ini ada di dalam cermin”, Paus Fransiskus mencatat, “melihat jiwanya yang terdiri dari ideologi-ideologi dan bersyukur kepada Tuhan”. Oleh karena itu, Yesus melihat kemungkinan menjadi orang-orang ini yang dengan cara hidup tersebut “tidak akan pernah sampai pada kepenuhan”, sampai sepenuhnya “membengkak”, yaitu sampai pada keunggulan.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa “para ahli Taurat” yang dibicarakan Injil adalah seperti ini : “dipenuhi dengan kecukupan diri”. Beliau juga memberikan contoh orang kaya – seorang imam – dalam Injil menurut Santo Lukas, yang menjalani hari-harinya dari satu pesta ke pesta lainnya, percaya bahwa dirinya sendiri “terhibur” – atau sosok unik orang Farisi yang berdoa, “Syukur, Tuhan, karena tidak menjadikan aku seperti orang-orang itu”.

“Orang itu melihat dirinya dalam cermin”, kata Paus Fransiskus. “Ia memandang dirinya mirip dengan ideologi-ideologi, dan bersyukur kepada Tuhan”. Bapa Suci melanjutkan dengan mengatakan bahwa Yesus menunjukkan kepada kita orang-orang seperti itu karena mereka mewakili sebuah kemungkinan yang sesungguhnya – memungkinkan untuk hidup sedemikian rupa sehingga, “kita tidak akan pernah sampai pada kepenuhan, tetapi hanya mencapai keadaan yang menggembung, “yaitu, terengah-engah dengan kesombongan.

Agar menjadi sesungguhnya, oleh karena itu penghiburan membutuhkan “yang lain”. Pertama-tama, penghiburan diterima, karena, “Allahlah yang menghibur”, yang memberi “karunia” ini. Lalu penghiburan sejati juga menjadi matang dalam “orang lain” yang lainnya, ketika orang yang terhibur tersebut, pada gilirannya menghibur. “Penghiburan adalah keadaan peralihan dari karunia yang diterima menjadi pelayanan yang diberikan”, Paus Fransiskus menjelaskan :

“Penghiburan sejati memiliki ‘keyanglainan’ ganda ini : karunia dan pelayanan. Dan begitulah, jika saya membiarkan penghiburan Tuhan masuk sebagai sebuah karunia itu karena saya butuh dihibur. Saya membutuhkan : agar terhibur, seseorang harus mengenali dirinya sebagai orang yang membutuhkan penghiburan. Baru saat itulah Tuhan datang, menghibur kita, dan memberi kita perutusan untuk menghibur orang lain. Tidaklah mudah kita memiliki hati yang terbuka untuk menerima karunia dan melayani, dua ‘kesederhanaan’ yang memungkinkan penghiburan”.

Lalu, hati yang terbuka diperlukan, dan agar terbuka hati harus bahagia – dan Bacaan Injil pada hari itu (Mat. 5:1-12) memberitahu kita tepatnya “siapakah orang yang gembira, orang yang ‘terberkati'” :

“Orang miskin : hati terbuka dengan sikap kemiskinan, sikap miskin akan roh; sikap yang tahu bagaimana menangis, orang-orang yang lemah lembut, kelemahlembutan hati; orang-orang yang lapar akan keadilan yang memperjuangkan keadilan; orang-orang yang berbelas kasihan, yang mengasihani orang lain; murni hati; para pembuat perdamaian dan orang-orang yang teraniaya demi keadilan, karena cinta akan kebenaran. Demikianlah hati terbuka dan [kemudian] Tuhan datang dengan karunia penghiburan dan perutusan untuk menghibur orang lain”.

Orang-orang seperti itu dipertentangkan dengan orang-orang yang “tertutup” dan merasa “kaya akan roh” – yaitu, “merasa cukup”, misalnya, “orang-orang yang tidak perlu menangis karena mereka merasa berada di pihak yang benar”, para pelaku kekerasan yang tidak tahu apa kelemahlembutan, orang-orang yang tidak adil yang melakukan ketidakadilan, orang-orang yang tanpa belas kasihan, yang tidak memerlukan pengampunan karena mereka tidak merasa perlu diampuni, “orang-orang yang hatinya kotor”, “para pembuat peperangan” dan bukan perdamaian, dan orang-orang yang tidak pernah dikecam atau teraniaya karena ketidakadilan yang dilakukan pada orang lain tidak mempedulikannya. “Ini”, kata Paus Fransiskus, “memiliki hati yang tertutup”. Mereka tidak senang karena karunia penghiburan tidak dapat masuk ke dalam hati mereka yang tertutup, sehingga mereka tidak dapat memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Sebagai penutup, Paus Fransiskus meminta umat untuk memikirkan hati mereka sendiri, entah hati mereka terbuka dan dapat meminta karunia penghiburan dan kemudian memberikannya kepada orang lain sebagai karunia dari Tuhan, mengatakan bahwa kita perlu kembali selama perjalanan setiap hari untuk pertimbangan ini, dan bersyukur kepada Tuhan, yang “selalu berusaha menghibur kita”, dan “meminta kita untuk membuka pintu hati kita meski hanya sedikit”. Kemudian, kata Paus Fransiskus, “[Tuhan ] akan menemukan jalan masuk”.

Sumber : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-12.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s