HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 13 Juni 2017 : KESAKSIAN KRISTIANI ADALAH GARAM DAN TERANG

A1
Bacaan Ekaristi : 2Kor. 1: 18-22; Mzm. 119:129,130,131,132,133,135; Mat. 5:13-16

Kristus memanggil seluruh umat kristiani untuk menjadi garam dan terang di dalam dan bagi dunia. Itulah pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Selasa pagi 13 Juni 2017 di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.
Paus Fransiskus mengawali dengan menekankan bahwa pemberitaan Injil bersifat “menentukan” – bahwa tidak ada “nuansa” untuk mengatakan “ya” atau “tidak” bagi Injil. Setiap upaya untuk memberikan tanggapan “bernuansa” terhadap Injil akan “membawa kalian untuk mencari keamanan buatan”, seperti halnya dengan “permainan kata-kata”.

“Ya”, “Garam”, “Terang”. Ketiga kata ini – yang diajukan oleh Surat Kedua Santo Paulus kepada jemaat di Korintus – dan disoroti oleh Paus Fransiskus dalam permenungannya, “menunjukkan kekuatan Injil” yang mengarah kepada “kesaksian dan bahkan memuliakan Allah”. Dalam “Ya” ini, kita menemukan “seluruh sabda Allah dalam diri Yesus, seluruh janji Allah”.

Beliau mengulangi bahwa, dalam diri Yesus, “segala sesuatu yang telah dijanjikan tergenapi dan karena alasan inilah Ia adalah penggenapan” :

“Dalam diri Yesus tidak ada ‘tidak’ : selalu ‘ya’, untuk kemuliaan Bapa. Tetapi kita juga membagikan ‘Ya’ Yesus ini, karena Ia telah memberi kita pengurapan, Ia telah membekaskan pada diri kita, telah memberi kita ‘jaminan keamanan’ dari Roh Kudus. Kita ambil bagian karena kita dipersatukan, dimeteraikan, dan menggenggam keamanan itu – jaminan keamanan dari Roh Kudus – Roh Kudus yang akan membawa kita kepada yang ‘Ya’ yang menentukan, dan juga penggenapan kita sendiri. Juga, Roh yang sama itu yang akan membantu kita menjadi garam dan terang, yaitu Roh Kudus yang membawa kita untuk memberi kesaksian kristiani”.

“Semuanya positif”, kata Paus FRansiskus, “dan kesaksian kristiani itu” adalah “garam dan terang”.

“Terang”, beliau menjelaskan, “untuk menerangi – dan siapa pun yang menyembunyikan terang tersebut memberi kesaksian yang bertentangan”, berlindung dalam “ya” dan sedikit “tidak”. Kemudian, kesaksian yang bertentangan ini “memiliki terang, tetapi tidak memberikannya, tidak membuatnya bersinar – dan jika mereka tidak membiarkan terang mereka bersinar, mereka tidak memuliakan Bapa yang ada di surga”. Sekali lagi, beliau memperingatkan, “ia memiliki garam, tetapi ia mengambilnya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikannya agar ia dapat mencegah pembusukan”.

“Ya-ya”, dan “tidak-tidak” : kata-kata yang bersifat menentukan, seperti yang telah diajarkan Tuhan kepada kita, dan seperti yang diingatkan oleh Paus Fransiskus kepada umat yang menghadiri Misa tersebut, “sesuatu yang lebihnya berasal dari Si Jahat”. “Sikap keamanan dan kesaksian inilah”, beliau menambahkan, “yang telah dipercayakan Tuhan kepada Gereja dan kepada kita semua yang telah dibaptis” :

“Keamanan dalam penggenapan janji dalam Kristus : dalam Kristus segala sesuatu telah tercapai. Kesaksian kepada orang lain : sebuah karunia yang diterima dari Allah di dalam Kristus, yang memberi kita pengurapan Roh Kudus agar kita dapat menjadi saksi. Inilah bagaimana menjadi orang kristiani : menerangi, membantu dengan melihat agar pesan maupun orang-orang tidak rusak – [mengawetkan] seperti yang dilakukan garam; tetapi jika terang itu tersembunyi, jika garam menjadi hambar, tanpa kekuatan – jika ia melemah – kesaksian akan menjadi lemah. Hanya, inilah [apa yang terjadi] ketika saya tidak menerima pengurapan, ketika saya tidak menerima meterai, ketika saya tidak menerima ‘jaminan keamanan’ Roh Kudus yang ada di dalam diri saya. Dan ini dilakukan ketika saya tidak menerima ‘ya’ di dalam Yesus Kristus”.

Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa hal ihwal kristiani cukup sederhana, tetapi “[juga] bersifat sangat menentukan dan indah, serta memberi kita begitu banyak harapan”. “Apakah saya adalah – marilah kita bertanya-tanya – terang bagi orang lain? Apakah saya adalah garam bagi orang lain – garam itu, yang bersikeras hidup dan mempertahankannya dari pembusukan? Apakah saya berpegang teguh pada Yesus Kristus, yang adalah ‘ya’? Apakah saya merasa terurapi, termetereikan? Apakah saya tahu bahwa saya memiliki keamanan yang akan tergenapi di Surga, tetapi setidaknya bersamaku sekarang sebagai ‘uang muka’ – [yaitu] Roh Kudus?”

Dalam bahasa sehari-hari, Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan, “Bila seseorang penuh akan terang, kita mengatakan bahwa orang itu adalah ‘watak yang cerah'” :

“Kita terbiasa mengatakan ‘Ada seseorang dengan watak yang cerah’. Hal ini bisa membantu kita untuk memahami hal ini. Ini bahkan lebih dari sekadar watak yang cerah. Inilah cerminan Bapa di dalam diri Yesus yang di dalam Dia seluruh janji tergenapi. Inilah cerminan pelayanan Roh yang kita miliki. Mengapa demikian? Mengapa kita menerima hal ini? Kedua bacaan memberitahu kita. Paulus berkata, ‘Karena alasan ini, Amin dari kita juga berjalan [melalui Kristus] menuju Allah demi kemuliaan’, dan Yesus berkata kepada murid-murid, terangmu harus bercahaya di hadapan orang lain, agar mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa surgawimu. Demikianlah kehidupan orang kristiani”.

Marilah kita memohonkan rahmat ini, Paus Fransiskus mengakhiri, “melekat, berakar dalam penggenapan janji-janji di dalam Kristus Yesus yang adalah ‘ya’, benar-benar ‘ya’, dan membawa penggenapan ini dengan garam dan terang kesaksian kita kepada orang lain untuk memberi kemuliaan kepada Bapa yang ada di surga”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s