HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 Juni 2017 : KEKUATAN ALLAH MENYELAMATKAN KITA DARI KELEMAHAN DAN DOSA

A1
Bacaan Ekaristi : 2 Kor. 4:7-15; Mzm. 116:10-11,15-16,17-18; Mat. 5:27-32.

Agar diselamatkan dan disembuhkan oleh Allah kita harus menyadari bahwa kita lemah, rentan dan berdosa seperti bejana tanah liat dan hal ini akan membawa kita kepada kebahagiaan. Itulah kata-kata Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Jumat pagi 16 Juni 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau merenungkan Bacaan Pertama (2Kor 4:7-15) yang di dalamnya Santo Paulus berbicara tentang misteri Kristus. Beliau mengatakan kita memiliki harta Kristus ini dalam kerapuhan dan kerentanan kita karena kita adalah bejana yang terbuat dari tanah liat.

“Kita semua rentan, rapuh, lemah, dan kita perlu disembuhkan”, kata Paus Fransiskus. Tetapi, menyadari kerentanan kita adalah salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan. Kadang kala, kita berusaha menutupi kerentanan ini dengan riasan agar menyamarkannya, berpura-pura tidak ada. Dan penyamaran selalu memalukan, kata Paus Fransiskus. “Mereka adalah orang-orang yang munafik”.

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa selain bersikap munafik terhadap orang lain, kita juga bersikap munafik dalam diri kita meyakini “sesuatu yang lain”, karenanya tidak memerlukan penyembuhan dan dukungan. Inilah, Paus Fransiskus menunjukkan, jalan menuju kesombongan, kebanggaan dan mengacu diri dari orang-orang yang tidak merasakan diri mereka terbuat dari tanah liat dan dengan demikian mencari keselamatan dan pemenuhan di dalam diri mereka sendiri. Sebaliknya, seperti dikatakan oleh Santo Paulus, kekuatan Allahlah yang menyelamatkan kita oleh karena kerentanan kita. Dalam segala hal kita ditindas, namun tidak terjepit, kita habis akal, namun tidak putus asa; kita dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kita dihempaskan, namun tidak binasa. Selalu ada hubungan antara tanah liat dan kekuatan ini, tanah liat dan harta. Tetapi godaannya, kata Paus Fransiskus, selalu sama : tertutup, menyembunyikan dan tidak percaya kita terbuat dari tanah liat. Inilah kemunafikan terhadap diri kita sendiri.

Dalam hal ini, Paus Fransiskus berbicara tentang pengakuan di mana kita mengakui dosa-dosa kita dengan cara sedikit mengapuri tanah liat agar tampak kuat. Sebaliknya, Paus Fransiskus mengatakan, kita harus menerima kelemahan dan kerentanan kita, bahkan jika “sulit” melakukannya. Maka sangatlah penting memiliki “rasa malu”. Rasa malulah yang memperluas hati untuk memungkinkan kekuatan Allah masuk – rasa malu menjadi tanah liat dan bukan sebuah pot yang terbuat dari perak atau emas. Ketika Petrus berkeberatan Yesus membasuh kakinya, ia tidak menyadari bahwa ia terbuat dari tanah liat yang membutuhkan kekuatan Tuhan untuk diselamatkan. Hanya ketika kita menerima kita terbuat dari tanah liat, kekuatan Allah yang luar biasa itu datang dan memberi kita penggenapan, keselamatan, kebahagiaan dan sukacita diselamatkan, sehingga menerima “harta” Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s