HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI LAPANGAN DEPAN BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 18 Juni 2017

A1
Bacaan Ekaristi : Ul 8:2-3.14b-16a; Mzm 147:12-13.14-15.19-20; 1 Kor 10:16-17; Yoh 6:51-58
 
Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, gagasan tentang ingatan muncul berulang kali. Musa berkata kepada orang-orang Israel : “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu […] jangan […] engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang di padang gurun memberi engkau makan manna” (Ul 8:2,14,16). Yesus mengatakan kepada kita : “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24). “Roti hidup yang telah turun dari sorga” (Yoh 6:51) adalah sakramen ingatan, mengingatkan kita, secara nyata dan kasat mata, tentang kisah kasih Allah bagi kita.
 
Hari ini, bagi kita masing-masing, sabda Allah mengatakan, Ingatlah! Kenangan akan perbuatan Tuhan membimbing dan menguatkan perjalanan umat-Nya melalui padang gurun; mengingat semua yang telah Tuhan lakukan bagi kita adalah landasan sejarah keselamatan kita sendiri. Kenangan sangatlah penting untuk iman, seperti air untuk sebuah tanaman. Sebuah tanaman tanpa air tidak bisa tetap hidup dan berbuah. Iman pun tidak bisa juga, kecuali jika ia meneguk dalam-dalam ingatan akan semua yang telah dilakukan Tuhan bagi kita.
 
Kenangan. Ingatan itu penting, karena ia memungkinkan kita untuk tinggal dalam kasih, menyadari, tidak pernah melupakan siapa yang mengasihi kita dan kepada siapakah kita pada gilirannya dipanggil untuk mengasihi. Tetapi saat ini, kemampuan satu-satunya yang telah diberikan Tuhan kepada kita ini sangatlah diperlemah. Di tengah-tengah begitu banyak kegiatan yang gila-gilaan, banyak orang dan peristiwa tampaknya lewat dalam sebuah pusaran. Kita dengan cepat membalik halaman, mencari hal baru seraya tidak bisa menyimpan ingatan. Meninggalkan ingatan kita di belakang dan hidup hanya untuk saat ini, kita selalu mengambil resiko sungguh tinggal di permukaan berbagai hal, terus menerus dalam masuknya berbagai hal, tanpa melangkah lebih dalam, tanpa penglihatan yang lebih luas yang mengingatkan kita siapa kita dan ke mana kita sedang berjalan. Dengan cara ini, hidup kita tumbuh terpenggal-penggal, dan redup batin.
 
Namun, hari raya saat ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan kita yang terpenggal-penggal, Tuhan datang untuk menemui kita dengan “kerapuhan” yang penuh kasih, yaitu Ekaristi. Dalam Roti Hidup, Tuhan datang kepada kita, menjadikan diri-Nya sebuah santapan yang rendah hati yang dengan penuh kasih menyembuhkan ingatan kita, yang terluka oleh kiprah kehidupan yang bersifat hidup gila-gilaan. Ekaristi adalah peringatan akan kasih Allah. Di sanalah, “penderitaan [Kristus] dikenangkan” (Vesper II, antifon untuk Magnificat) dan kita mengingat kasih Allah bagi kita, yang memberi kita kekuatan dan dukungan dalam perjalanan kita. Inilah sebabnya mengapa peringatan Ekaristi itu sangat bermanfaat bagi kita : bukanlah sebuah kenangan yang tak berwujud, dingin dan dangkal, namun sebuah ingatan yang hidup yang menghibur kita dengan kasih Allah. Ekaristi dibumbui dengan sabda dan perbuatan Yesus, citarasa sengsara-Nya, keharuman Roh-Nya. Ketika kita menerimanya, hati kita dikuasai dengan kepastian kasih Yesus. Dengan mengatakan ini, saya memikirkan khususnya kalian anak laki-laki dan perempuan, yang baru saja menerima Komuni Pertama, dan berada di sini hari ini dalam jumlah besar.
 
Ekaristi memberi kita suatu kenangan yang penuh syukur, karena Ekaristi membuat kita melihat bahwa kita adalah anak-anak Bapa, yang Ia kasihi dan pelihara. Ekaristi memberi kita sebuah kenangan yang cuma-cuma, karena kasih dan pengampunan Yesus menyembuhkan luka-luka masa lalu, menenangkan ingatan akan kesalahan yang kita alami dan timbulkan. Ekaristi memberi kita sebuah ingatan yang sabar, karena di tengah-tengah seluruh permasalahan kita, kita tahu bahwa Roh Yesus tinggal di dalam diri kita. Ekaristi mendorong kita : bahkan di jalan yang paling kasar sekalipun, kita tidak sendirian; Tuhan tidak melupakan kita dan setiap kali kita berpaling kepada-Nya, Ia memulihkan kita dengan kasih-Nya.
 
Ekaristi juga mengingatkan kita bahwa kita bukanlah pribadi-pribadi yang terasing, tetapi satu tubuh. Saat orang-orang di padang pasir mengumpulkan manna yang jatuh dari surga dan membagikannya di keluarga-keluarga mereka (bdk. Kel 16), demikianlah Yesus, Roti yang turun dari Surga, memanggil kita bersama-sama untuk menerima-Nya dan saling membagikan-Nya. Ekaristi bukanlah sebuah sakramen “untukku”; Ekaristi adalah sakramen banyak orang, yang membentuk satu tubuh. Santo Paulus mengingatkan kita akan hal ini : “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1 Kor 10:17). Ekaristi adalah sakramen kesatuan. Siapa pun yang menerimanya tidak dapat gagal untuk menjadi seorang pembangun kesatuan, karena membangun kesatuan telah menjadi bagian dari “DNA rohani” -nya. Semoga Roti kesatuan ini menyembuhkan ambisi kita untuk menguasai lebih dari yang lain, dengan rakus menimbun barang untuk kita sendiri, menimbulkan perbantahan dan kecaman. Semoga Ekaristi membangkitkan dalam diri kita sukacita hidup dalam kasih, tanpa persaingan, kecemburuan atau pergunjingan yang keji.
 
Sekarang, dalam mengalami Ekaristi ini, marilah kita menyembah dan bersyukur kepada Tuhan atas karunia yang teragung ini : peringatan yang hidup akan kasih-Nya, yang menjadikan kita satu tubuh dan menuntun kita menuju kesatuan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s