HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI TAMAN SIMON BOLIVAR, BOGOTA (KOLOMBIA) 7 September 2017 : BERTOLAKLAH KE TEMPAT DALAM AGAR DAPAT MENJADI PENGRAJIN PERDAMAIAN DAN PENGGAGAS KEHIDUPAN

A1

Bacaan Ekaristi : Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.

Penulis Injil mengatakan kepada kita bahwa panggilan murid-murid pertama terjadi di sepanjang pantai Danau Genesaret, di mana orang-orang berkumpul untuk mendengar suara yang mampu membimbing mereka dan menerangi mereka; Danau Genesaret juga merupakan tempat para nelayan biasa menghabiskan hari-hari mereka yang melelahkan, di mana mereka mencari rezeki untuk menjalani kehidupan yang bermartabat dan bahagia, kehidupan yang tidak berkekurangan kebutuhan dasariah. Inilah satu-satunya saat dalam seluruh Injil Lukas Yesus berkhotbah di dekat Danau Galilea. Di danau yang terbentang pengharapan mereka akan sebuah hasil tangkapan yang berlimpah berubah menjadi frustrasi dengan apa yang tampaknya merupakan usaha yang sia-sia dan tak berarti. Menurut sebuah penafsiran kristiani kuno, danau juga mewakili luasnya tempat semua orang hidup; oleh karena gemuruh dan kegelapannya, danau membangkitkan segala sesuatu yang mengancam keberadaan manusia dan memiliki kekuatan untuk menghancurkannya.

Kita menggunakan ungkapan serupa untuk menjabarkan orang banyak : sebuah gelombang manusiawi, sebuah lautan manusia. Hari itu, Yesus memiliki danau di belakang-Nya, dan di depan-Nya ada orang banyak yang mengikuti-Nya karena mereka tahu betapa dalamnya Ia tergerak oleh penderitaan manusia … dan mereka mengetahui perkataan-Nya yang tidak memihak, mendalam, dan benar. Semua orang datang untuk mendengarkan-Nya; sabda Yesus memiliki sesuatu yang istimewa yang tak membiarkan seorang pun acuh tak acuh; sabda-Nya memiliki kekuatan untuk mengubah hati, mengubah rencana dan rancangan. Sabda-Nya merupakan sebuah kata yang ditunjukkan oleh tindakan, bukan temuan akademis, kesepakatan dingin, yang terlepas dari penderitaan orang-orang; karena sabda-Nya adalah sebuah kata yang berlaku baik untuk keamanan pantai maupun kerapuhan danau.

Bogotá, kota tercinta ini, dan Kolombia, negara yang indah ini, menyampaikan banyak skenario umat manusia yang dipaparkan oleh Injil. Di sini juga orang banyak berkumpul, merindukan sebuah sabda untuk mencerahkan seluruh usaha mereka, dan untuk menunjukkan arah dan keindahan keberadaan manusia. Kerumunan pria dan wanita ini, kaum muda dan kaum lanjut usia, tinggal di tanah kesuburan yang tak terbayangkan, yang bisa memberi segalanya bagi semua orang. Tetapi di sini, seperti di tempat-tempat lain, ada kegelapan pekat yang mengancam dan menghancurkan kehidupan : kegelapan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial; kegelapan kepentingan pribadi dan kelompok yang merusak yang menghabiskan dengan cara yang egois dan tak terkendali apa yang ditakdirkan untuk kebaikan semua orang; kegelapan tidak menghormati kehidupan manusia yang setiap hari menghancurkan kehidupan banyak orang tak berdosa, yang darahnya berteriak ke surga; kegelapan kehausan untuk membalas dendam dan kebencian yang menodai tangan orang-orang yang menyalahgunakan kewenangan mereka sendiri; kegelapan dari orang-orang yang menjadi mati rasa terhadap penderitaan begitu banyak korban. Yesus mencerai-beraikan dan menghancurkan seluruh kegelapan ini dengan perintah yang Ia berikan kepada Petrus di dalam perahu : “Bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk 5:4).

Kita bisa terjerumus dalam diskusi-diskusi tanpa henti, menambahkan upaya-upaya yang gagal dan membuat sebuah daftar dari semua usaha yang tidak menghasilkan apa-apa; sama seperti Petrus, kita tahu apa artinya bekerja tanpa hasil. Bangsa ini sangat mengetahui ini semua, mengingat bahwa dalam kurun waktu enam tahun, sejak awalnya, ada enam belas presiden, dan negara membayar mahal atas perpecahannya (“tanah air yang bodoh”); Gereja di Kolombia juga tahu tentang pekerjaan pastoral yang tidak berhasil dan sia-sia …, tetapi, seperti Petrus, kita juga bisa mempercayai Sang Guru, yang sabda-Nya berbuah bahkan di mana permusuhan kegelapan manusia membuat banyak usaha dan banyak upaya sia-sia. Petrus adalah orang yang dengan tegas menerima undangan Yesus, untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya, untuk menjadi seorang penjala ikan yang baru, yang perutusannya adalah membawa kepada saudara-saudaranya Kerajaan Allah, di mana kehidupan dijadikan penuh dan membahagiakan.

Tetapi perintah untuk meninggalkan jala tidak ditujukan hanya kepada Simon Petrus; ia diarahkan untuk bertolak ke tempat yang dalam, seperti orang-orang di tanah air Anda yang pertama kali mengenali apa yang paling menarik perhatian, seperti orang-orang yang mengambil prakarsa untuk perdamaian, untuk kehidupan. Meninggalkan jala melibatkan tanggung jawab. Di Bogotá dan di Kolombia sebuah komunitas yang besar sekali melakukan perjalanan ke depan, memanggil untuk bertobat dalam sebuah jejaring yang sehat yang mengumpulkan semua orang menjadi satu kesatuan, bekerja untuk membela dan merawat kehidupan manusia, terutama bila kehidupan tersebut paling rapuh dan rentan : di dalam rahim seorang ibu, dalam masa kanak-kanak, dalam usia lanjut, dalam kondisi ketidakberdayaan dan dalam situasi keterpinggiran sosial. Banyak kelompok orang di Bogotá dan di Kolombia juga bisa menjadi komunitas-komunitas yang benar-benar bersemangat, adil dan bersaudara, jika mereka mendengar dan menyambut sabda Allah. Dari orang banyak yang terinjili ini akan timbul banyak pria dan wanita yang berubah menjadi murid, yang dengan sepenuh hati, mengikuti Yesus; pria dan wanita yang mampu mencintai kehidupan dalam seluruh tahapannya, mampu menghormati dan mengembangkannya.

Kita perlu saling memanggil, saling memberi isyarat, seperti para nelayan, kembali saling melihat sebagai saudara dan saudari, teman seperjalanan, mitra dalam tujuan bersama ini yakni tanah air. Bogotá dan Kolombia pada saat bersamaan adalah pantai, danau, lautan luas, kota yang sudah dilewati dan dilewati Yesus, untuk menawarkan kehadiran-Nya dan sabda-Nya yang berbuah, memanggil keluar dari kegelapan dan membawa kita menuju terang dan menuju kehidupan. Ia memanggil semua orang, agar tak seorang pun yang ditinggalkan dari kerahiman badai; naik ke perahu setiap keluarga, tempat kudus kehidupan itu; memberi ruang untuk kebaikan bersama di atas kepentingan-kepentingan diri atau pribadi apapun; membawa orang-orang yang paling rapuh dan menumbuhkan hak-hak mereka.

Petrus mengalami kekecilannya, besarnya sabda dan kuasa Yesus; Petrus tahu kelemahannya, pasang surutnya …, seperti kita semua tahu kekecilannya kita, seperti diketahui dalam sejarah kekerasan dan perpecahan bangsa Anda, sebuah sejarah yang tidak selalu menemukan kita berbagi perahu, badai, kemalangan. Tetapi dengan cara yang sama seperti Simon, Yesus mengundang kita untuk bertolak ke tempat yang dalam, Ia mendesak kita untuk mengambil resiko bersama, meninggalkan keegoisan kita dan mengikuti-Nya; melepaskan ketakutan kita yang tidak berasal dari Allah, yang melumpuhkan kita dan mencegah kita menjadi para pengrajin perdamaian, para penggagas kehidupan.

Sumber : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/09/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-di.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s