HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA DAN BEATIFIKASI JESUS EMILIO JARAMILLO MONSALVE DAN PEDRO MARIA RAMIREZ RAMOS DI VILLAVICENCIO (KOLOMBIA) 8 September 2017

A1

Bacaan Ekaristi : Mi. 5:1-4a; Mzm. 13:6ab,6cd; Mat. 1:1-16,18-23.

“Kelahiranmu, ya Bunda Perawan Allah, adalah fajar baru yang mewartakan sukacita bagi seluruh dunia, karena daripadamulah telah lahir sang mentari keadilan, Kristus Allah kita” (bdk Antifon untuk Kudus). Pesta kelahiran Santa Perawan Maria menyinarkan cahayanya atas kita, sama seperti cahaya fajar menyinari dataran Kolombia yang luas, pemandangan yang indah ini pintu gerbangnya adalah Villavicencio, dan juga menyinarkan cahayanya di atas maraknya keragaman masyarakat adatnya.

Maria adalah cahaya perdana yang memberitakan berakhirnya malam, dan terutama, hari yang akan datang. Kelahirannya membantu kita untuk memahami rencana cinta yang penuh kasih sayang, lembut, berbelas kasih yang di dalamnya Allah turun dan memanggil kita untuk mengadakan perjanjian yang menakjubkan dengan-Nya, yang tak ada sesuatupun dan tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

Maria tahu bagaimana meneruskan cahaya Allah, dan ia mencerminkan sinar dari cahaya itu dalam rumahnya yang ia bagikan dengan Yosef dan Yesus, mencerminkannya juga dalam bangsanya, negaranya dan rumah bersama bagi seluruh umat manusia tersebut : ciptaan.

Dalam Injil, kita telah mendengar silsilah Yesus (Mat 1:1-17), yang bukan sebuah “daftar nama yang sederhana”, melainkan sebuah “sejarah yang hidup”, sejarah umat yang bersamanya Allah melakukan perjalanan; dengan menjadikan dirinya salah seorang dari kita, Allah ingin memberitakan bahwa sejarah orang-orang benar dan orang-orang berdosa mengalir melalui darah-Nya, agar keselamatan kita bukanlah suatu wujud yang suci hama yang ditemukan di laboratorium, melainkan sesuatu yang nyata, sebuah kehidupan yang bergerak maju. Daftar panjang ini mengatakan kepada kita bahwa kita adalah bagian kecil dari sebuah sejarah yang luas, dan daftar tersebut membantu kita untuk tidak menuntut kepentingan yang berlebihan bagi diri kita sendiri; daftar tersebut membantu kita menghindari godaan hal-hal yang terlalu bersifat rohani; daftar tersebut membantu kita untuk tidak menarik diri dari kenyataan-kenyataan sejarah yang sesungguhnya yang di dalamnya kita tinggal. Daftar tersebut juga memadukan dalam sejarah keselamatan kita halaman-halaman itu yang merupakan saat-saat kehancuran yang paling gelap dan paling menyedihkan, dan pengabaian yang setara dengan pembuangan.

Penyebutan para wanita – meskipun tidak seorang pun dari mereka yang disebutkan dalam silsilah tersebut memiliki kategori wanita hebat dalam Perjanjian Lama – memungkinkan kita melakukan pendekatan tertentu : merekalah, dalam silsilah, yang memberitahu kita bahwa darah kafir mengalir melalui pembuluh darah Yesus, dan yang mengingatkan kembali kisah sungut-sungut dan penaklukan. Dalam masyarakat-masyarakat di mana kita masih terbebani dengan kebiasaan patriarkal dan chauvinistik, ada baiknya mencatat bahwa Injil dimulai dengan menyoroti para wanita yang berpengaruh dan menghasilkan sejarah.

Dan di dalam semua hal ini kita melihat Yesus, Maria dan Yosef. Maria dengan “ya”-nya yang tulus mengizinkan Allah untuk bertanggung jawab atas sejarah itu. Yosef, orang yang benar, tidak membiarkan harga diri, hasrat atau semangatnya mengusir dirinya dari cahaya ini. Kisah tersebut memberitahu kita, sebelum Yosef benar-benar menyadari, apa yang telah terjadi pada Maria. Keputusannya, yang dibuat sebelum malaikat membantunya memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya, menunjukkan sifat-sifat manusiawinya. Kemuliaan hati Yosef sedemikian rupa sehingga apa yang ia pelajari dari hukum menjadikannya bergantung pada cinta kasih; dan hari ini, di dunia ini di mana kekerasan psikologis, verbal dan fisik terhadap para wanita begitu nyata, Yosef dipaparkan sebagai sosok orang yang penuh hormat dan peka. Bahkan meskipun ia tidak mengerti gambaran yang lebih luas, ia membuat sebuah keputusan yang mendukung nama baik Maria, martabatnya dan hidupnya. Dalam keraguannya sebagai cara terbaik untuk bertindak, Allah membantunya dengan mencerahkan pertimbangannya.

Rakyat Kolombia adalah umat Allah; di sini juga kita bisa menulis silsilah yang penuh dengan kisah, banyak kisah cinta dan cahaya; lainnya kisah perselisihan, penghinaan, bahkan kisah kematian … Berapa banyak dari kalian dapat menceritakan tentang pembuangan dan kesedihan! Berapa banyak wanita, secara diam-diam, telah bertahan sendirian, dan berapa banyak pria yang baik telah mencoba menyingkirkan dendam dan kebencian, dengan harapan bisa menyandingkan keadilan dan kebaikan! Bagaimana cara terbaik untuk menyalakan lampu? Apa jalan rekonsiliasi yang sebenarnya? Seperti Maria, dengan mengatakan ya untuk keseluruhan sejarah, tidak hanya sebuah bagian daripadanya. Seperti Yosef, dengan mengesampingkan hawa nafsu dan harga diri kita. Seperti Yesus Kristus, dengan memegang sejarah itu, memikulnya, merangkulnya. Itulah siapa diri Anda, itulah siapa orang-orang Kolombia, di situlah kalian menemukan jatidiri kalian. Allah dapat melakukan semua ini jika kita mengatakan ya terhadap kebenaran, kebaikan, rekonsiliasi, jika kita mengisi sejarah dosa, kekerasan dan penolakan kita dengan terang Injil.

Rekonsiliasi bukanlah sebuah kata semu; jika memang begitu, maka rekonsiliasi hanya akan membawa kemandulan dan jarak yang lebih jauh. Rekonsiliasi berarti membuka pintu bagi setiap orang yang telah mengalami kenyataan perseteruan yang tragis. Ketika para korban mengatasi godaan yang bisa dimengerti terhadap membalas dendam, mereka menjadi para pelaku utama yang paling dapat dipercaya dalam proses membangun perdamaian. Yang dibutuhkan adalah beberapa orang yang berani mengambil langkah pertama ke arah itu, tanpa menunggu orang lain melakukannya. Kita hanya membutuhkan satu orang yang baik untuk memiliki pengharapan! Dan kita masing-masing bisa menjadi orang itu! Ini tidak berarti mengabaikan atau menyembunyikan perbedaan dan perseteruan. Ini bukan untuk mengesahkan ketidakadilan pribadi dan tatanan. Jalan menuju rekonsiliasi tidak bisa hanya sekedar melayani untuk menampung situasi-situasi yang tidak adil. Sebaliknya, seperti yang diajarkan oleh Santo Yohanes Paulus II : “[Rekonsiliasi] lebih merupakan sebuah pertemuan antarsaudara yang dipaksa untuk mengatasi godaan terhadap egoisme dan menolak upaya-upaya keadilan semu. buah perasaan yang kuat, mulia dan murah hatilah yang mengarah pada pembentukan sebuah hidup berdampingan berdasarkan penghormatan terhadap setiap pribadi dan pada nilai-nilai yang sesuai untuk setiap masyarakat sipil” (Surat kepada para para Uskup El Salvador, 6 Agustus 1982). Oleh karena itu, rekonsiliasi menjadi bersifat substantif dan dipererat oleh sumbangsih semua orang; rekonsiliasi memungkinkan kita membangun masa depan, dan membuat pengharapan tumbuh. Setiap usaha damai tanpa komitmen yang tulus untuk rekonsiliasi ditakdirkan gagal.

Teks Injil yang telah kita dengar berpuncak pada Yesus yang disebut Imanuel, Allah beserta kita. Begitulah Injil Matius diawali dan diakhiri : “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Janji ini juga tergenapi di Kolombia : Monsignor Jesús Emilio Jaramillo Monsalve, Uskup Arauca, dan pastor martir Armero, Pedro María Ramírez Ramos, adalah sebuah tanda dari hal ini, sebuah ungkapan dari suatu bangsa yang ingin bangkit dari rawa kekerasan dan kepahitan

Dalam lingkungan-lingkungan yang indah ini, terserah kita untuk mengatakan “ya” terhadap rekonsiliasi; semoga “ya” kita juga termasuk lingkungan alam. Bukanlah kebetulan bahwa bahkan pada alam kita telah melampiaskan keinginan kita untuk memiliki dan menaklukan. Salah seorang negarawan kalian menyanyikan hal ini dengan cara yang indah : “Pohon-pohon sedang menangis, mereka menjadi saksi-saksi bertahun-tahun kekerasan. Laut cokelat, campuran darah dan tanah” (Juanes, Minas Piedras). “Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan” (Laudato Si’, 2). Kita perlu mengatakan “ya” bersama Maria, dan menyanyikan bersamanya “keajaiban-keajaiban Tuhan”, karena seperti yang telah dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, Ia membantu seluruh bangsa dan negara, Ia membantu Kolombia yang hari ini ingin diperdamaikan; itulah sebuah janji yang juga dibuat untuk keturunannya selama-lamanya.

Sumber : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/09/homli-paus-fransiskus-dalam-misa-pesta.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s