HUT Paroki Sukasari ke-53

DSC_0046

Kebersamaan dalam kesederhanaan. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan peringatan Hari Ulang Tahun Paroki Santo Fransiskus Asisi yang jatuh pada 5 Agustus 2016. Pada tahun ini Santo Fransiskus Asisi atau yang akrab disebut Paroki Sukasari genap berusia 53 tahun sejak berdiri pada 5 Agustus 1963. Bertepatan dengan ulang tahun paroki tersebut maka diadakan Perayaan Ekaristi syukur atas anugerah ulang tahun pada Jumat, 5 Agustus 2016 pukul 17.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Markus Lukas dan didampingi oleh RD. Agustinus Adi Indiantono. Seusai Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan Salve yang rutin diadakan setiap bulannya.

Perayaan kemudian dilanjutkan dengan pembunyian lonceng gereja untuk pertama kalinya semenjak terpasang. Saat ini arsitektur Gereja St. Fransiskus Asisi terlihat indah setelah dilakukan renovasi dan ditambahkan pemasangan lonceng di kubah bagian sayap kanan gereja.

DSC_0044

DSC_0057
Gaya baru arsitektur Gereja St. Fransiskus Asisi – Sukasari

Seusai rangkaian Perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan ramah tamah di Aula Santo Michael dengan pemotongan kue ulang tahun sebagai simbolis 53 tahun paroki. Kemudian umat bersama-sama menyantap konsumsi yang telah disediakan sambil berbincang-bincang bersama para kerabat.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN HARI ORANG MUDA SEDUNIA DI KAMPUS MISERICORDIAE (KRAKOW – POLANDIA) 31 Juli 2016

11222408_1039524686111548_7413174454476150704_nOrang-orang muda yang terkasih, kalian telah datang ke Krakow untuk bertemu Yesus. Injil hari ini berbicara kepada kita persisnya tentang pertemuan antara Yesus dan seorang bernama Zakheus, di Yeriko (bdk. Luk 19:1-10). Di sana Yesus tidak hanya berkhotbah atau menyapa orang-orang; sebagaimana dikatakan Penginjil, Ia berjalan terus melintasi kota (ayat 1). Dengan kata lain, Yesus ingin mendekat kepada kita secara pribadi, menyertai perjalanan kita hingga akhir, sehingga hidup-Nya dan hidup kita benar-benar dapat bertemu.

Sebuah perjumpaan yang luar biasa kemudian terjadi, dengan Zakheus, kepala “pemungut cukai” atau pemungut pajak. Zakheus dengan demikian merupakan kaki tangan yang kaya dari para penjajah Roma yang dibenci, seseorang yang mengeksploitasi bangsanya sendiri, seseorang yang, oleh karena reputasinya yang sakit, bahkan tidak bisa mendekati Sang Guru. Perjumpaannya dengan Yesus mengubah hidupnya, persis ketika ia telah mengubah, dan setiap hari masih bisa mengubah, setiap kehidupan kita. Tetapi Zakheus harus menghadapi sejumlah kendala untuk bertemu Yesus. Setidaknya tiga hal ini juga dapat mengatakan sesuatu kepada kita.

Kendala yang pertama adalah perawakan yang pendek. Zakheus tidak bisa melihat Sang Guru karena ia pendek. Bahkan hari ini kita bisa mengambil resiko tidak mendekat kepada Yesus karena kita tidak merasa cukup besar, karena kita tidak berpikir diri kita layak. Inilah sebuah godaan besar; ia tidak hanya dilakukan dengan harga diri, tetapi dengan iman itu sendiri. Karena iman mengatakan kepada kita bahwa kita adalah “anak-anak Allah … itulah kita yang sesungguhnya” (1 Yoh 3:1). Kita telah diciptakan menurut gambar Allah sendiri; Yesus telah mengambil atas diri-Nya kemanusiaan kita dan hatinya tidak akan pernah lepas dari kita; Roh Kudus ingin berdiam di dalam diri kita. Kita telah dipanggil untuk menjadi bahagia selama-lamanya bersama Allah!

Itulah “perawakan” kita yang sesungguhnya, jatidiri rohani kita: kita adalah anak-anak Allah yang terkasih, selalu. Jadi kalian dapat melihat bahwa tidak menerima diri kita sendiri, hidup muram, menjadi negatif, berarti tidak mengakui jatidiri kita yang terdalam. Ia seperti berjalan pergi ketika Allah ingin memandangku, mencoba merusak impian-Nya untukku. Allah mengasihi kita dengan cara apa adanya, dan bukan dosa, kesalahan atau kesalahan kita yang membuat-Nya berubah pikiran. Sejauh Yesus berperhatian – seperti ditunjukkan Injil – tak seorang pun yang tidak layak, atau jauh dari, pikiran-Nya. Tak seorang pun yang tidak penting. Ia mengasihi kita semua dengan kasih yang istimewa; bagi-Nya kita semua penting: Kalian penting! Allah mengandalkan kalian apa adanya, bukan karena apa yang kalian miliki. Di mata-Nya pakaian yang kalian kenakan atau jenis telepon seluler yang kalian gunakan adalah benar-benar tidak diperhatikan. Ia tidak peduli apakah kalian bergaya atau tidak; Ia peduli tentang kalian! Di mata-Nya, kalian berharga, dan harga kalian tak ternilai.

Berkali-kali dalam hidup kita, kita bertujuan lebih rendah daripada lebih tinggi. Pada waktu-waktu itu, ada baiknya menyadari bahwa Allah tetap setia, bahkan keras kepala, dalam kasih-Nya bagi kita. Faktanya adalah, Ia mengasihi kita bahkan lebih daripada kita mengasihi diri kita sendiri. Ia percaya pada kita bahkan lebih daripada kita percaya pada diri kita sendiri. Ia selalu “menyemangati kita”; Ia adalah penggemar kita yang terbesar. Ia ada di sana untuk kita, sedang menanti dengan kesabaran dan harapan, bahkan ketika kita menyerahkan pada diri kita sendiri dan merenung atas masalah-masalah dan luka-luka masa lalu kita. Tetapi merenung seperti ini tidaklah layak bagi perawakan rohani kita! Ia adalah sejenis virus yang menjangkiti dan menghadang segala sesuatu; ia menutup pintu-pintu dan mencegah kita bangun dan memulai lagi dari awal. Allah, di sisi lain, dengan putus asa berharap! Ia percaya bahwa kita selalu bisa bangun, dan Ia benci melihat kita murung dan muram. Karena kita selalu merupakan putra dan putri-Nya yang tercinta. Marilah kita menyadari hal ini pada awal setiap hari baru. Akan ada baiknya kita berdoa setiap pagi : “Tuhan, saya berterima kasih karena mengasihiku; membantuku jatuh cinta dengan kehidupanku sendiri!”. Bukan dengan kesalahan-kesalahanku, yang perlu dikoreksi, tetapi dengan kehidupan itu sendiri, yang merupakan sebuah karunia yang agung, karena ia adalah sebuah waktu untuk mengasihi dan dikasihi.

Zakheus menghadapi kendala kedua dalam bertemu Yesus : kelumpuhan akan rasa malu. Kita bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya sebelum ia memanjat ara itu. Pasti cukup merupakan sebuah perjuangan – di satu sisi, rasa ingin tahu dan keinginan yang sehat untuk mengenal Yesus; di sisi lain, resiko pemunculan yang benar-benar konyol. Zakheus adalah tokoh masyarakat, orang kekuasaan. Ia tahu bahwa, dalam mencoba untuk memanjat pohon itu, ia akan menjadi bahan tertawaan bagi semua orang. Namun ia menguasai rasa malunya, karena daya tarik Yesus lebih kuat. Kalian tahu apa yang terjadi ketika seseorang begitu berdaya tarik sehingga kita jatuh cinta dengan mereka : kita akhirnya siap untuk melakukan berbagai hal yang bahkan tidak akan pernah kita pikirkan untuk dilakukan. Hal serupa terjadi dalam hati Zakheus, ketika ia menyadari bahwa Yesus begitu penting sehingga ia sudi melakukan apa saja untuk-Nya, karena Yesus sendiri bisa menariknya keluar dari lumpur dosa dan ketidakpuasan. Kelumpuhan akan rasa malu tidak memiliki kekuasaan. Injil mengatakan kepada kita bahwa Zakheus “berlari”, “memanjat” pohon, dan kemudian, ketika Yesus memanggilnya, ia “segera turun” (ayat 4, 6). Ia mengambil resiko, ia menempatkan hidupnya pada garis tersebut. Bagi kita juga, inilah rahasia sukacita : bukan memadamkan rasa ingin tahu yang sehat, tetapi mengambil resiko, karena hidup tidak dimaksudkan untuk tersimpan. Ketika itu datang kepada Yesus, kita tidak bisa duduk-duduk menunggu dengan tangan terlipat; Ia menawarkan kita kehidupan – kita tidak bisa menanggapi dengan memikirkannya atau “melafalkan” beberapa kata!

Teman-teman muda yang terkasih, jangan malu untuk membawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam pengakuan, terutama kelemahan-kelemahan kalian, pergumulan-pergumulan kalian dan dosa-dosa kalian. Ia akan mengejutkan kalian dengan pengampunan-Nya dan damai sejahtera-Nya. Jangan takut untuk mengatakan “ya” bagi-Nya dengan segenap hatimu, menanggapi dengan murah hati dan mengikuti-Nya! Jangan biarkan jiwa kalian tumbuh mati rasa, tetapi mengarah untuk tujuan kasih yang indah yang juga menuntut pengorbanan. Katakanlah sebuah “tidak” yang tegas terhadap narkotika keberhasilan berapa pun biayanya dan obat penenang kekhawatiran hanya tentang diri kalian dan kenyamanan kalian sendiri.

Setelah perawakan yang kecil dan kelumpuhannya akan rasa malu, ada kendala ketiga yang harus dihadapi Zakheus. Bukan lagi kendala batin, tetapi semua yang sekelilingnya. Itu adalah gerutuan orang banyak, yang pertama-tama menghadangnya dan kemudian mengkritiknya : Bagaimana mungkin Yesus masuk ke dalam rumahnya, rumah seorang pendosa! Benar-benar betapa sulitnya menyambut Yesus, betapa sulitnya menerima seorang “Allah yang kaya dalam kerahiman” (Ef 2:4)! Orang-orang akan mencoba untuk menghadang kalian, membuat kalian berpikir bahwa Allah jauh, kaku dan tidak peka, kebaikan untuk orang baik dan keburukan untuk orang yang buruk. Sebaliknya, Bapa surgawi kita “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik” (Mat 5:45). Ia menuntut kita keberanian yang nyata: keberanian untuk menjadi lebih kuat ketimbang yang jahat dengan mengasihi semua orang, bahkan musuh-musuh kita. Orang mungkin menertawakan kalian karena kalian percaya pada kekuatan kerahiman yang lembut dan sederhana. Tetapi jangan takut. Pikirkan moto hari-hari ini: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5:7). Orang mungkin menilai kalian menjadi para pemimpi, karena kalian percaya pada sebuah kemanusiaan baru, kemanusiaan yang menolak kebencian di antara bangsa-bangsa, kemanusiaan yang menolak melihat perbatasan sebagai penghalang dan dapat menghargai tradisinya sendiri tanpa egois atau berjiwa picik. Jangan berkecil hati: dengan sebuah senyum dan tangan terbuka, kalian memberitakan harapan dan kalian adalah sebuah berkat bagi satu keluarga manusiawi kita, yang di sini kalian wakili begitu indah!

Hari itu orang banyak menghakimi Zakheus; mereka memandangnya, atas dan bawah. Tetapi Yesus melakukan sebaliknya : Ia menatap ke arahnya (ayat 5). Yesus memandang melampaui kesalahan dan melihat orang tersebut. Ia tidak terdiam di hadapan kejahatan, tetapi melihat kebaikan masa depan. Tatapannya tetap konstan, bahkan ketika itu tidak terpenuhi; mengusahakan jalan kesatuan dan persekutuan. Tidak ada satu kasus pun yang berhenti pada penampilan, tetapi memandang hati. Dengan tatapan Yesus ini, kalian dapat membantu menimbulkan kemanusiaan lain, tanpa mencari pengakuan tetapi mengusahakan kebaikan untuk kepentingannya sendiri, dengan senang hati menjaga hati yang murni dan berjuang secara damai untuk kejujuran dan keadilan. Jangan berhenti di permukaan berbagai hal; tidak mempercayai kultus penampilan duniawi, upaya-upaya kosmetik untuk meningkatkan penampilan kita. Sebaliknya, “mengunduh” “tautan” terbaik, tautan sebuah hati yang melihat dan meneruskan kebaikan tanpa tumbuh lelah. Sukacita yang secara cuma-cuma telah kalian terima dari Allah, secara cuma-cuma diberikan (bdk. Mat 10:8): begitu banyak orang yang menantikannya!

Akhirnya marilah kita mendengarkan kata-kata yang dikatakan Yesus kepada Zakheus, yang tampak berarti bagi kita hari ini : “Segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (ayat 5). Yesus meluaskan undangan yang sama untuk kalian : “Aku harus tinggal di rumahmu”. Kita dapat mengatakan bahwa Hari Orang Muda Sedunia dimulai hari ini dan berlanjut besok, di rumah-rumah kalian, karena itulah tempat Yesus ingin bertemu kalian dari sekarang. Tuhan tidak ingin tinggal di kota yang indah ini, atau dalam kenangan yang disimpan dalam hati saja. Ia ingin memasuki rumah-rumah kalian, tinggal dalam kehidupan sehari-hari kalian : dalam studi kalian, tahun pertama pekerjaan kalian, persahabatan dan kasih sayang kalian, harapan dan impian kalian. Betapa besarnya Ia menginginkan agar kalian membawa semua ini pada-Nya dalam doa! Berapa banyak Ia berharap agar, dalam semua “kontak” dan “chat” setiap hari, kebanggaan tempat diberikan kepada benang emas doa! Berapa banyak Ia menginginkan sabda-Nya dapat berbicara kepada kalian hari demi hari, sehingga kalian dapat membuat Injil kalian sendiri, sehingga ia dapat berfungsi sebagai sebuah penunjuk arah untuk kalian di jalan raya kehidupan!

Dalam meminta untuk datang ke rumah kalian, Yesus memanggil kalian, seperti yang Ia lakukan terhadap Zakheus, dengan nama. Nama kalian berharga bagi-Nya. Nama “Zakheus” akan membuat orang-orang kembali memikirkan kenangan akan Allah. Mempercayai kenangan akan Allah : kenangan-Nya bukanlah sebuah “hard disk” yang “menyimpan” dan “mengarsip” semua data kita, tetapi sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih sayang yang lembut, yang menemukan sukacita dalam “menghapus” di dalam diri kita setiap jejak kejahatan. Semoga kita juga sekarang mencoba meniru kenangan akan Allah yang setia dan menghargai hal-hal yang baik yang telah kita terima dalam beberapa hari ini. Dalam keheningan, marilah kita mengingat perjumpaan ini, marilah kita melestarikan kenangan kehadiran Allah dan sabda-Nya, dan marilah kita mendengarkan sekali lagi suara Yesus dan sabda-Nya. saat ia memanggil kita dengan nama. Jadi sekarang marilah kita berdoa secara diam-diam, mengingat dan bersyukur kepada Tuhan yang menginginkan kita berada di sini dan telah datang ke sini untuk menemui kami.

*****
(Peter Suriadi – Bogor, 31 Juli 2016 : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/08/homili-paus-fransiskus-dalam-misa.html)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI TEMPAT SUCI SANTO YOHANES PAULUS II (KRAKOW – POLANDIA) 30 Juli 2016

11222408_1039524686111548_7413174454476150704_n.jpgKata-kata dari Injil yang baru saja kita dengar (bdk. Yoh 20:19-31) berbicara kepada kita tentang sebuah tempat, seorang murid dan sebuah kitab.

Tempat adalah di mana para murid berkumpul pada Paskah malam; kita hanya membaca bahwa pintu-pintunya tertutup (bdk. ayat 19). Delapan hari kemudian, murid-murid sekali lagi berkumpul di sana, dan pintu-pintu masih terkunci (bdk. ayat 26). Yesus masuk, berdiri di tengah-tengah mereka dan membawakan mereka damai sejahtera-Nya, Roh Kudus dan pengampunan dosa : dalam sebuah kata, kerahiman Allah. Di balik pintu-pintu yang tertutup ada gema panggilan Yesus kepada para pengikut-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (ayat 21).

Yesus mengutus. Sejak awal, Ia menginginkan kepunyaan-Nya menjadi sebuah Gereja yang bergerak, sebuah Gereja yang pergi keluar ke dalam dunia. Dan Ia menginginkannya melakukan hal ini seperti yang Ia lakukan. Ia tidak diutus ke dalam dunia oleh Bapa untuk memegang kekuasaan, tetapi untuk mengambil rupa seorang hamba (bdk. Flp 2:7); Ia datang bukan “untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:45) dan untuk membawa Kabar Baik (bdk. Luk 4:18). Dengan cara yang sama, para pengikut-Nya diutus di setiap zaman. Kontras tersebut mencolok mata : sedangkan para murid telah menutup pintu karena takut, Yesus mengutus mereka. Ia menginginkan mereka membuka pintu dan pergi keluar untuk menyebarkan pengampunan dan damai sejahtera Allah, dengan kuasa Roh Kudus.

Panggilan ini juga ditujukan kepada kita. Bagaimana kita bisa gagal untuk mendengar gemanya dalam himbauan agung Santo Yohanes Paulus II : “Bukalah pintu?”. Namun, dalam kehidupan kita sebagai para imam dan para pelaku hidup bakti, kita sering tergoda untuk tetap tertutup, karena takut atau kenyamanan, di dalam diri kita sendiri dan di lingkungan kita. Tetapi Yesus mengarahkan kita ke jalan satu arah : jalan pergi keluar dari diri kita sendiri. Ia adalah perjalanan satu arah, tanpa tiket pulang. Ia melibatkan membuat sebuah eksodus dari diri kita sendiri, kehilangan kehidupan kita demi Dia (bdk. Mrk 8:35) dan berangkat di jalan karunia diri. Atau tidakkah Yesus menyukai perjalanan-perjalanan yang dilakukan setengah jalan, pintu-pintu setengah tertutup, kehidupan yang dihayati pada dua tapak. Ia meminta kita untuk berkemas ringan untuk perjalanan, berangkat meninggalkan keamanan kita sendiri, bersama Dia satu-satunya sebagai kekuatan kita.

Dengan kata lain, kehidupan murid terdekat Yesus, yang kepadalah kita dipanggil, dibentuk oleh kasih nyata, sebuah kasih, dengan kata lain, yang ditandai dengan pelayanan dan ketersediaan. Ia adalah sebuah kehidupan yang tidak memiliki ruang tertutup atau milik pribadi untuk kita gunakan sendiri. Mereka yang memilih untuk meneladan seluruh hidup mereka pada Yesus tidak lagi memilih tempat mereka sendiri; mereka pergi ke mana mereka diutus, dalam tanggapan yang siap sedia kepada Dia yang memanggil. Mereka bahkan tidak memilih waktu mereka sendiri. Rumah tempat mereka tinggal bukan milik mereka, karena Gereja dan dunia adalah ruang terbuka perutusan mereka. Kekayaan mereka adalah menempatkan Tuhan di tengah-tengah kehidupan mereka dan tidak mencari apa-apa lagi untuk diri mereka sendiri. Maka mereka meninggalkan kepuasan berada di pusat segala sesuatu; mereka tidak membangun di atas landasan yang goyah dari kekuasaan duniawi, atau tinggal dalam kenyamanan yang mengompromikan penginjilan. Mereka tidak membuang-buang waktu merencanakan sebuah masa depan yang aman, jangan sampai mereka beresiko menjadi terasing dan suram, tertutup dalam dinding-dinding sempit pemusatan diri yang tanpa sukacita dan putus asa. Menemukan kebahagiaan mereka dalam Tuhan, mereka tidak puas dengan kehidupan biasa-biasa saja, tetapi mengobarkan keinginan untuk bersaksi dan menjangkau orang lain. Mereka suka mengambil resiko dan berangkat, tidak terbatas pada jalan-jalan yang sudah menyala, tetapi terbuka dan setia kepada jalan yang ditunjukkan oleh Roh. Daripada hanya mendapatkan, mereka bergembira menginjili.

Kedua, Injil hari ini menyajikan kita dengan satu murid yang bernama Thomas. Dalam keragu-raguan dan usahanya untuk memahami, murid ini, meskipun agak keras kepala, sedikit seperti kita dan kita menemukannya menyenangkan. Tanpa menyadarinya, Ia memberi kita sebuah karunia besar : Ia membawa kita lebih dekat kepada Allah, karena Allah tidak bersembunyi dari orang-orang yang mencari-Nya. Yesus menunjukkan kepada Thomas luka-luka-Nya yang mulia; Ia membuatnya menyentuh dengan tangannya kelembutan Allah yang tak terbatas, tanda-tanda yang jelas tentang betapa ia menderita demi kasih untuk umat manusia.

Bagi kita yang adalah murid-murid, sangatlah penting menempatkan kemanusiaan kita dalam kontak dengan tubuh Tuhan, membawa kepada-Nya, dengan kepercayaan penuh dan ketulusan yang terungkap, seluruh keberadaan kita. Seperti dikatakan Yesus kepada Santa Faustina, Ia senang ketika kita mengatakan kepada-Nya segalanya : Ia tidak bosan dengan kehidupan kita, yang telah Ia ketahui; Ia menanti kita mengatakan kepada-Nya bahkan tentang peristiwa-peristiwa hari kita (bdk. Buku Harian, 6 September 1937). Itulah jalan untuk mencari Allah : melalui doa yang transparan dan tidak takut menyerahkan kepada-Nya kesulitan-kesulitan kita, pergumulan-pergumulan kita dan hambatan-hambatan kita. Hati Yesus dimenangkan oleh keterbukaan yang tulus, oleh hati yang mampu mengakui dan bersedih atas kelemahannya, namun percaya bahwa justru di situlah kerahiman Allah akan bekerja.

Apa yang diminta Yesus dari kita? Ia menginginkan hati yang benar-benar dikuduskan, hati yang mendatangkan kehidupan dari pengampunan-Nya untuk mencurahkannya dengan kasih sayang pada saudara dan saudari kita. Yesus menginginkan hati yang terbuka dan lembut terhadap orang-orang lemah, tidak pernah hati yang mengeras. Ia menginginkan hati yang taat dan transparan yang tidak menyembunyikan di hadapan orang-orang yang ditunjuk Gereja sebagai para pemandu kita. Murid-murid jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan, mereka memiliki keberanian untuk menghadapi perasaan was-was mereka dan membawa mereka kepada Tuhan, kepada para pembina dan para atasan mereka, tanpa perhitungan atau keengganan. Seorang murid yang setia terlibat dalam kearifan yang terus waspada, mengetahui bahwa hati harus dilatih setiap hari, dimulai dengan kasih sayang, melepaskan diri dari setiap bentuk kecurangan dalam sikap dan dalam kehidupan.

Rasul Thomas, pada akhir pencariannya yang berapi-api, tidak hanya datang untuk percaya pada kebangkitan, tetapi menemukan dalam diri Yesus harta terbesar kehidupannya, Tuhannya. Ia mengatakan kepada Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28). Akan ada baiknya kita mendoakan setiap hari kata-kata megah ini, dan mengatakan kepada Tuhan : Engkau adalah hartaku satu-satunya, jalan yang harus aku ikuti, pokok hidupku, seluruh hidupku.

Ayat akhir dari Injil hari ini berbicara tentang sebuah kitab : kitab tersebut adalah Injil yang, kita diberitahu, tidak mengandung seluruh banyak tanda lain yang dikerjakan Yesus (ayat 30). Setelah tanda agung kerahiman-Nya, kita bisa mengatakan bahwa tidak ada lagi sebuah kebutuhan untuk menambahkan yang lainnya. Namun satu tantangan tetap ada. Ada ruang tersisa untuk tanda-tanda yang perlu dikerjakan oleh kita, yang telah menerima Roh kasih dan dipanggil untuk menyebarkan kerahiman. Bisa dikatakan bahwa Injil, kitab yang hidup dari kerahiman Allah yang harus terus menerus dibaca dan dibaca ulang, masih memiliki banyak halaman kosong yang tersisa. Ia tetap sebuah kitab terbuka di mana kita dipanggil untuk menulisnya dalam gaya yang sama, dengan karya kerahiman yang kita lakukan. Izinkan saya menanyakan hal ini : Seperti apakah halaman-halaman buku-buku kalian? Apakah mereka kosong? Semoga Bunda Allah membantu kita dalam hal ini. Semoga ia, yang sepenuhnya menyambut sabda Allah ke dalam kehidupannya (bdk. Luk 8:20-21), memberi kita kasih karunia untuk menjadi para penulis yang hidup dari Injil. Semoga Bunda Kerahiman kita mengajarkan kita bagaimana merawat secara nyata luka-luka Yesus dalam diri saudara dan saudari kita yang membutuhkan, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, orang-oang sakit dan para migran, karena dengan melayani mereka yang menderita kita menghargai daging Kristus. Semoga Perawan Maria membantu kita menghabiskan diri kita sepenuhnya untuk kebaikan umat beriman yang dipercayakan kepada kita, dan menunjukkan kepedulian satu sama lain sebagai saudara dan saudari yang sejati dalam persekutuan Gereja, Bunda kita yang kudus.

Saudara dan saudari terkasih, kita masing-masing memegang di dalam hatinya sebuah halaman yang sangat pribadi dari kitab kerahiman Allah. Ia adalah kisah panggilan kita sendiri, suara kasih yang menarik kita dan mengubah kehidupan kita, membawa kita meninggalkan segala sesuatu atas sabda-Nya dan mengikuti-Nya (bdk. Luk 5:11). Hari ini mari kita dengan penuh syukur mengobarkan memori panggilan kita, yang di pihak kita lebih kuat dari hambatan dan keletihan apapun. Ketika kita meneruskan perayaan Ekaristi ini, pusat kehidupan kita, marilah kita bersyukur kepada Tuhan karena telah masuk melalui pintu-pintu kita yang tertutup dengan kerahiman-Nya, untuk memanggil kita, seperti Thomas, dengan nama, dan untuk memberikan kita kasih karunia terus menulis Injil kasih-Nya.

*****
(Peter Suriadi – Bogor, 30 Juli 2016 : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/07/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-untuk.html)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN 1050 TAHUN BAPTISAN POLANDIA DI BIARA JASNA GORA, CZESTOCHOWA (POLANDIA) 28 Juli 2016

Dari Bacaan-bacaan Liturgi ini sebuah jalinan ilahi muncul, jalinan yang melalui sejarah manusia dan merangkai sejarah keselamatan.

Rasul Paulus mengatakan kepada kita tentang rencana agung Allah : “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Putra-Nya, yang lahir dari seorang perempuan” (Gal 4:4). Namun sejarah mengatakan kepada kita bahwa ketika “genap waktunya” ini telah tiba, ketika Allah menjadi manusia, umat manusia terutama tidak bersikap baik, ataupun bahkan tidak ada periode stabilitas dan perdamaian : tidak ada “Abad Keemasan”. Skenario dunia ini tidak memantaskan kedatangan Allah; malahan, “orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Jadi kegenapan waktu merupakan sebuah karunia rahmat : Allah menggenapi waktu kita karena kelimpahan kerahiman-Nya. Karena kasih semata Ia meresmikan kegenapan waktu.

Sangatlah mencolok bagaimana munculnya kedatangan Allah ke dalam sejarah : Ia “lahir dari seorang perempuan”. Tidak ada jalan masuk penuh kemenangan atau penampakan mencolok dari Yang Maha Kuasa. Ia tidak mewahyukan diri-Nya sebagai matahari yang sedang terbit terang benderang, tetapi memasuki dunia dengan cara-cara yang paling sederhana, sebagai seorang anak dari ibunya, dengan “gaya” itu yang diceritakan Kitab Suci kepada kita seperti hujan jatuh ke atas tanah (bdk. Yes 55:10), seperti benih-benih yang paling kecil yang bersemi dan tumbuh (bdk. Mrk 4:31-32). Dengan demikian, bertentangan dengan harapan kita dan bahkan mungkin keinginan kita, kerajaan Allah, sekarang dan kelak, “tidak datang dengan cara yang menarik perhatian” (Luk 17:20), melainkan dalam kekecilan, dalam kerendahan hati.

Injil hari ini mengulas jalinan ilahi yang secara tidak mencolok mata melalui sejarah ini : dari kegenapan waktu kita datang ke “hari ketiga” pelayanan Yesus (bdk. Yoh 2:1) dan pemakluman “jam” keselamatan (bdk. ayat 4). Waktu memendek, Allah selalu menunjukkan diri-Nya dalam kekecilan. Dan maka kita datang ke “tanda-tanda pertama yang dilakukan Yesus” (ayat 11), di Kana yang di Galilea.

Tidak ada perbuatan menakjubkan yang dilakukan di hadapan orang banyak, atau bahkan sebuah kata untuk menyelesaikan pertanyaan politik yang memanas seperti pertanyaan tunduknya orang-orang terhadap kekuatan Roma. Sebaliknya, di sebuah desa kecil, sebuah mukjizat yang sederhana berlangsung dan membawa sukacita kepada pernikahan dari sebuah keluarga muda dan benar-benar tak dikenal. Pada saat yang sama, air yang menjadi anggur di pesta pernikahan adalah sebuah tanda besar, karena ia mewahyukan kepada kita wajah suami-istri Allah, Allah yang duduk di meja bersama kita, yang bercita-cita dan mempertahankan persekutuan dengan kita. Ia memberitahu kita bahwa Tuhan tidak menjaga jarak, tetapi dekat dan nyata. Ia berada di tengah-tengah kita dan Ia memelihara kita, tanpa membuat keputusan-keputusan di tempat kita dan tanpa mengganggu dirinya dengan masalah-masalah kekuasaan. Ia lebih suka membiarkan dirinya terkandung dalam hal-hal kecil, tidak seperti diri kita sendiri, yang selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih besar. Tertarik oleh kekuatan, oleh kemegahan, oleh penampilan, secara tragis bersifat manusiawi. Sebuah godaan besarlah yang berusaha menyusupkan dirinya di mana-mana. Tetapi memberikan dirinya kepada orang lain, menghilangkan jarak, tinggal dalam kekecilan dan menghayati kenyataan kehidupan sehari-harinya : ini sangat terasa bersifat ilahi. Allah menyelamatkan kita, kemudian dengan menjadikan diri-Nya kecil, dekat dan nyata. Pertama-tama Allah menjadikan diri-Nya kecil. Tuhan, yang “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29), terutama mengasihi orang-orang kecil, yang kepadanya Kerajaan Allah dinyatakan (Mat 11:25); mereka besar di mata-Nya dan Ia memandang mereka (bdk. Yes 66:2). Ia sangat mengasihi mereka karena mereka bertentangan dengan “keangkuhan hidup” milik dunia (bdk. 1 Yoh 2:16). Orang-orang kecil berbicara bahasanya sendiri, bahasa kasih yang rendah hati yang membawa kebebasan. Maka Ia memanggil orang-orang sederhana dan menerima untuk menjadi juru bicara-Nya; Ia mempercayakan kepada mereka pewahyuan nama-Nya dan rahasia-rahasia hati-Nya. Pikiran kita beralih kepada begitu banyak putra dan putri bangsa kalian sendiri, seperti para martir membuat kekuatan Injil yang tanpa daya bersinar ke luar, seperti orang-orang sederhana yang hingga kini luar biasa tersebut yang menjadi saksi kasih Tuhan di tengah-tengah pencobaan-pencobaan besar, dan para pewarta kerahiman yang lemah lembut dan penuh kuasa yang adalah Santo Yohanes Paulus II dan Santa Faustina. Melalui “saluran-saluran” kasih-Nya ini, Tuhan telah menganugerahkan karunia-karunia yang tak ternilai kepada seluruh Gereja dan kepada seluruh umat manusia. Sangatlah penting bahwa ulang tahun baptisan bangsa kalian ini persis bertepatan dengan Yubileum Kerahiman.

Kemudian juga, Allah sudah dekat, kerajaan-Nya adalah di tangan (bdk. Mrk 1:15). Tuhan tidak ingin ditakuti seperti penguasa yang kuat dan tersendiri. Ia tidak ingin tinggal di singgasana-Nya di surga atau dalam buku-buku sejarah, tetapi suka turun ke urusan-urusan kita sehari-hari, berjalan bersama kita. Ketika kita memikirkan karunia sebuah milenium yang begitu penuh dengan iman, ada baiknya kita sebelum segalanya bersyukur kepada Allah karena telah berjalan bersama bangsa kalian, telah membawa kalian dan menyertai kalian dalam begitu banyak situasi. Itulah apa yang terus menerus memanggil kita juga, dalam Gereja, dilakukan : mendengarkan, melibatkan diri dan menjadi sesama, berbagi dalam sukacita dan pergumulan bangsa, sehingga Injil dapat menyebar lebih konsisten dan bermanfaat : memancarkan kebaikan melalui transparansi kehidupan kita.

Akhirnya, Allah itu nyata. Bacaan-bacaan hari ini menjadikannya jelas bahwa segala sesuatu tentang cara Allah bertindak adalah nyata dan berwujud. Kebijaksanaan ilahi “seperti seorang pekerja kesayangan” dan “bermain-main” (bdk. Amsal 8:30). Sabda telah menjadi daging, lahir dari seorang ibu, lahir di bawah hukum (bdk. Gal 4:4), memiliki teman-teman dan pergi ke sebuah pesta. Kekekalan disampaikan dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang dan dalam situasi-situasi nyata. Sejarah kalian sendiri, terbentuk oleh Injil, Salib dan kesetiaan kepada Gereja, telah melihat kekuatan menular dari sebuah iman sejati, diturunkan dari keluarga ke keluarga, dari ayah ke anak laki-laki dan terutama dari ibu dan nenek, yang kepadanya kita perlu begitu berterima kasih. Secara khusus, kalian telah mampu menjamah dengan tangan kalian kelembutan nyata dan hemat-cermat dari Bunda semua orang, yang kepadanya saya telah datang ke sini sebagai seorang peziarah untuk memuliakan dan kepadanya kita telah mengakui dalam Mazmur sebagai “kebanggaan besar bangsa kita” (Yud 15:9).

Bagi Marialah, maka kita, yang telah berkumpul di sini, sekarang memandang. Dalam dirinya, kita menemukan kesesuaian sempurna terhadap Tuhan. Sepanjang sejarah, ditenun dengan jalinan ilahi, “jalinan Maria” juga. Jika ada apapun kemuliaan manusia, apapun jasa kita sendiri dalam kegenapan waktu, dialah itu. Maria adalah ruang itu, yang dilestarikan bebas dari dosa, di mana Allah memilih untuk mencerminkan diri-Nya. Ia adalah tangga Allah menuruni dan mendekati kita. Ia adalah tanda paling jelas kegenapan waktu.

Dalam kehidupan Maria kita mengagumi kekecilan itu sehingga Allah mengasihi, karena Ia “memandang kerendahan hati hamba-Nya”, dan “meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:48,52). Ia begitu senang dengannya sehingga Ia membiarkan daging-Nya ditenun dari miliknya, sehingga Sang Perawan menjadi Bunda Allah, sebagai sebuah himne kuno, yang dinyanyikan selama berabad-abad, mengumandang. Bagi kalian yang tak putus-putusnya datang kepadanya, memusatkan perhatian atas hal ini, modal rohani negara, semoga ia terus menunjukkan jalan. Semoga ia membantu kalian untuk menenun dalam kehidupan kalian sendiri benang yang rendah hati dan sederhana dari Injil.

Di Kana, seperti di sini di Jasna Gora, Maria menawarkan kepada kita kedekatannya dan membantu kita untuk menemukan apa yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan menuju kegenapan. Sekarang ketika kemudian, ia melakukan hal ini dengan kasih seorang ibu, dengan kehadiran dan nasihatnya, mengajarkan kita untuk menghindari keputusan yang tergesa-gesa dan gerutuan dalam masyarakat-masyarakat kita. Sebagai ibu dari sebuah keluarga, ia ingin menjaga kita bersama-sama. Melalui kesatuan, perjalanan bangsa kalian telah mengatasi sejumlah pengalaman yang keras. Semoga Bunda, yang berdiri teguh di kaki Salib dan bertekun dalam doa bersama para murid dalam menantikan Roh Kudus, mendapatkan untuk kalian keinginan meninggalkan semua kesalahan masa lalu dan luka-luka, serta untuk membangun persekutuan dengan semua orang, tanpa pernah menghasilkan pencobaan untuk menarik atau menguasai.

Di Kana, Bunda Maria menunjukkan kenyataan besar. Ia adalah seorang ibu yang membawa masalah-masalah orang-orang ke hati dan tindakan. Ia mengenali saat-saat sulit dan menangani mereka diam-diam, efisien dan tegas. Ia tidak angkuh atau mengganggu, tetapi Ibu dan hamba. Marilah kita meminta rahmat untuk meniru kepekaannya dan kreativitasnya dalam melayani mereka yang membutuhkan, dan untuk mengetahui betapa indahnya menghabiskan hidup kita dalam pelayanan orang lain, tanpa favorit atau perbedaan. Semoga Maria, Penyebab sukacita kita, yang membawa kedamaian di tengah profesi dosa dan gejolak sejarah, memperoleh bagi kita pencurahan Roh Kudus, dan memungkinkan kita untuk menjadi hamba yang baik dan setia.

Melalui pengantaraannya, semoga kepenuhan waktu terjadi juga bagi kita. Peralihan dari sebelum ke sesudah Kristus berarti sedikit jika ia tetap sebuah tanggal dalam sejarah. Semoga kita masing-masing dapat membuat sebuah bagian batin, sebuah Paskah hati, menuju “gaya ilahi” yang dijelmakan oleh Maria. Semoga kita melakukan segala sesuatu dalam ukuran kecil, dan menyertai orang lain dari dekat, dengan hati yang sederhana dan terbuka.

***
(Peter Suriadi – Bogor, 28 Juli 2016 : http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/07/homili-paus-fransiskus-dalam-misa.html)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Juli 2016 : TENTANG MEMUDARNYA SENI KERAMAHTAMAHAN

11222408_1039524669444883_247051396995936196_n.jpgSaudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari ini, Penginjil Lukas menceritakan bahwa Yesus, ketika Ia berangkat ke Yerusalem, pergi ke sebuah kampung dan disambut di rumah dua orang kakak beradik : Maria dan Marta (bdk. Luk 10:38-42). Keduanya menyambut Tuhan, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Maria duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan sabda-Nya (bdk. ayat 39), sementara Marta sangat sibuk mempersiapkan berbagai hal. Pada suatu saat, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (ayat 40). Dan Yesus menjawab, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (ayat 41-42).

Dalam menyibukkan dirinya dan melakukan berbagai hal, Marta menjalankan resiko melupakan – dan inilah masalahnya – kehadiran tamunya, yang dalam hal ini adalah Yesus. Ia melupakan kehadiran tamunya.

Seorang tamu tidak perlu sekedar dilayani, dijamu, dan diurus dalam segala hal. Terutama perlunya ia didengarkan – ingatlah dengan baik kata ini – mendengarkan. Bahwasanya tamu dapat dianggap sebagai seseorang, dengan sejarahnya, hatinya yang kaya perasaan dan pikiran, sehingga ia boleh benar-benar merasakan bahwa ia berada di kalangan keluarga. Tetapi jika kalian menyambut seorang tamu di rumah kalian dan kalian terus mengerjakan berbagai hal, serta kalian mendapatinya duduk diam, kalian mendiamkannya, seolah-olah ia adalah sebuah batu karang – tamu yang terbuat dari batu karang. Tidak.

Seorang tamu harus didengarkan. Tentu saja, jawaban yang diberikan Yesus kepada Marta – ketika Ia mengatakan kepadanya bahwa hanya satu hal yang diperlukan – menemukan maknanya yang penuh dalam acuan mendengarkan sabda Yesus sendiri, sabda ini yang menerangi dan menopang seluruh diri kita dan semua yang kita lakukan. Jika kita akan berdoa, misalnya, di hadapan salib, serta kita bicara dan bicara dan bicara dan kemudian kita pergi, kita tidak mendengarkan Yesus. Kita tidak mengizinkan-Nya berbicara kepada hati kita.

Mendengarkan – kata ini adalah kuncinya. Jangan melupakannya. Kita tidak bisa melupakan bahwa sabda Yesus menerangi kita; ia menopang kita dan menopang seluruh diri kita dan yang kita lakukan.

Kita seharusnya tidak melupakan juga bahwa di rumah Maria dan Marta, Yesus – sebelum menjadi Tuhan dan Guru – adalah peziarah dan tamu. Jadi, jawaban-Nya memiliki kepentingan yang pertama dan lebih mendesak ini : “Marta, Marta, mengapa engkau begitu khawatir atas tamu yang datang hingga titik melupakan kehadirannya?”. Tamu batu karang.

Menyambutnya, banyak hal tidak diperlukan; sebaliknya, hanya satu saja yang perlu : mendengarkan Dia, sabda, mendengarkan Dia, menunjukkan kepada-Nya sebuah sikap persaudaraan, sehingga Ia merasakan bahwa Ia adalah di kalangan keluarga, dan bukan berada di beberapa tempat pemberhentian sementara.

Dipahami dengan cara ini, keramahtamahan, yang merupakan salah satu karya kerahiman, terlihat benar-benar sebagai sebuah keutamaan manusiawi dan kristiani, sebuah keutamaan yang di dunia saat ini, menjalankan resiko dikesampingkan. Bahkan, ada semakin banyak losmen dan penginapan, tetapi di tempat-tempat ini, sebuah keramahtamahan sejati tidak selalu dihayati.

Berbagai lembaga dibentuk untuk membantu dalam berbagai bentuk penyakit, kesepian, keterpinggiran, namun berkurangnya kemungkinan bahwa orang yang adalah orang asing, terpinggirkan, terkucil, dapat menemukan seseorang yang siap untuk mendengarkannya. Orang asing, pengungsi, migran – mendengarkan kisah sedih ini. Bahkan di rumahnya sendiri, di kalangan keluarganya sendiri, lebih mudah menemukan pelayanan dan perawatan berbagai jenis ketimbang mendengarkan dan menyambut.

Hari ini kita begitu sibuk dan terburu-buru, dengan begitu banyak masalah, beberapa di antaranya tidaklah penting, sehingga kita tidak memiliki kemampuan untuk mendengarkan. Kita terus-menerus sibuk dan dengan demikian kita tidak punya waktu untuk mendengarkan.

Saya ingin menanyai kita semua, dan masing-masing orang menjawab dalam hati : Kalian, suami, apakah kalian memiliki waktu untuk mendengarkan istri kalian? Kalian, istri, apakah kalian memiliki waktu untuk mendengarkan suami kalian? Kalian, para orang tua, apakah kalian punya waktu, waktu luang sehingga mendengarkan anak-anak kalian, atau para kakek-nenek, lansia kalian? “Para kakek-nenek selalu sedang berbicara, mereka membosankan”. Tetapi mereka perlu didengar. Mendengarkan. Saya meminta kalian untuk belajar untuk mendengarkan dan mendedikasikan lebih banyak waktu untuk hal ini. Dalam kemampuan mendengarkan ada akar perdamaian.

Semoga Perawan Maria, Bunda pelayanan yang mendengarkan dan penuh perhatian, mengajarkan kita untuk menyambut dan ramah tamah dengan saudara dan saudari kita.

****
(Peter Suriadi – Bogor, 17 Juli 2016 > http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/07/wejangan-paus-fransiskus-dalam-doa_17.html)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Juli 2016 : TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK

11222408_1039524669444883_247051396995936196_nSaudara dan saudari terkasih, selamat pagi!
 
Hari ini, liturgi berbicara kepada kita tentang perumpamaan “Orang Samaria yang Baik”, yang diambil dari Injil Lukas (10:25-37). Ia, dalam kisahnya yang sederhana dan inspiratif, menunjukkan sebuah cara hidup, yang di dalamnya pusat gravitasi bukanlah diri kita sendiri, tetapi orang lain, dengan kesulitan-kesulitan mereka, yang kita jumpai dalam perjalanan kita dan yang membuat kita mempertanyakan diri kita sendiri. Orang lain membuat kita mempertanyakan diri kita sendiri. Dan ketika orang lain tidak memiliki pengaruh ini pada kita, ada sesuatu yang tidak benar; sesuatu di dalam hati seperti itu bukan bersifat Kristen. Yesus menggunakan perumpamaan ini ketika berbicara kepada ahli Taurat tentang perintah ganda yang memungkinkan kalian masuk ke dalam hidup yang kekal : ‘kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (ayat 25-28). “Ya – jawab ahli Taurat – tetapi, katakan kepadaku, “siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Kita juga bisa mengajukan kepada diri kita sendiri pertanyaan ini : Siapakah sesamaku manusia? Siapakah yang aku kasihi seperti diriku sendiri? Kerabat-kerabatku? Sahabat-sahabatku? Orang-orang sebangsaku? Orang-orang yang seagama denganku? … Siapakah sesamaku manusia?
 
Dan Yesus menjawab dengan sebuah perumpamaan. Seseorang, di jalan dari Yerusalem ke Yerikho, diserang, dipukuli dan ditinggalkan oleh para penyamun. Menuruni jalan yang sama itu adalah seorang imam dan kemudian seorang Lewi, yang, sambil melihat orang yang terluka itu, tidak berhenti dan langsung berjalan lurus (ayat 31-32). Kemudian seorang Samaria, boleh dikatakan seorang warga Samaria, dan dengan demikian, dibenci oleh orang-orang Yahudi karena tidak menjalankan agama yang benar; namun ia, sendirian, ketika ia melihat orang celaka yang malang itu, “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya […], membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya” (ayat 33-34); dan keesokan harinya menempatkan dia dalam perawatan sang pemilik penginapan, membayar untuk itu dan mengatakan ia akan membayar segala sesuatu yang lainnya (bdk. ayat 35).
 
Pada titik ini, Yesus berpaling kepada ahli Taurat dan bertanya : “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”. Dan tentu saja – karena ia cerdas – menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (ayat 36-37). Dengan cara ini, Yesus benar-benar telah menjungkirbalikkan perspektif awal ahli Taurat – dan perspektif awal kita juga! – Mencoba menggolongkan orang bukanlah terserah kita, untuk melihat apakah mereka diperhitungkan sebagai sesama kita. Sebaliknya, keputusan untuk menjadi sesama, atau tidak, tergantung pada kita. Tergantung pada saya. Tergantung pada sayalah untuk menjadi sesama atau tidak bagi orang yang saya temui yang membutuhkan pertolongan saya, bahkan jika ia adalah orang asing, atau bahkan bermusuhan. Dan Yesus menyimpulkan : “Pergilah dan perbuatlah demikian” (ayat 37). Ini adalah sebuah pelajaran besar! Dan Ia berkata kepada kita masing-masing : “Pergilah, dan perbuatlah demikian”, terutama untuk tetanggamu yang kamu lihat dalam kesulitan. “Pergilah dan perbuatlah demikian”. “Perbuatlah karya-karya yang baik, tidak hanya mengatakan kata-kata yang pergi kepada angin. Sebuah lagu datang ke pikiran : “Kata-kata, kata-kata, kata-kata”. Tidak. Tolong, perbuatlah. Bertindaklah. Dan dengan karya-karya yang baik yang kita perbuat dengan kasih dan sukacita bagi orang lain, iman kita tumbuh dan berbuah. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri – kita masing-masing menanggapi dalam hati kita – marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: Apakah iman kita berbuah? Apakah iman kita menghasilkan karya-karya yang baik? Atau ia malahan mandul, dan oleh karena itu lebih baik mati daripada hidup? Apakah aku ‘sesama manusia’ atau apakah aku benar-benar hanya berjalan terus? Atau apakah aku termasuk orang yang memilih-milih orang sesuai dengan kesenangan mereka? Ada baiknya mengajukan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan ini dan seringkali karena, pada akhirnya, kita akan dihakimi berdasarkan karya-karya kerahiman. Tuhan akan berkata kepada kita : ‘Tetapi kamu, kamu ingat waktu di jalan dari Yerusalem ke Yerikho itu? Orang yang hampir mati itu adalah Aku. Apakah kamu ingat? Anak yang lapar itu adalah Aku. Apakah kamu ingat? Pengungsi yang ingin diusir orang banyak itu adalah Aku. Para kakek-nenek yang kesepian itu, yang ditinggalkan di rumah jompo, itu adalah Aku. Orang sakit yang sendirian itu di rumah sakit, yang tidak dikunjungi seorang pun, adalah Aku’.
 
Semoga Perawan Maria membantu kita berjalan di sepanjang jalan kasih yang murah hati terhadap orang lain, jalan orang Samaria yang baik. Semoga engkau membantu kami menjalani perintah utama yang ditinggalkan Kristus bagi kita. Dan inilah cara masuk ke dalam hidup yang kekal.
 
[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]
 
Saudara dan saudari terkasih,
 
Hari ini adalah “Hari Minggu Lautan”, dalam mendukung kepedulian pastoral para pelaut. Saya mendorong parra pelaut dan para nelayan dalam karya mereka, seringkali sulit dan beresiko, serta para kapelan dan para relawan dalam pelayanan mereka yang berharga. Semoga Maria, Bintang Laut, menjaga kalian!
 
Dan saya menyambut kalian semua, umat Roma dan dari banyak bagian Italia dan dunia.
 
Saya mengalamatkan sambutan khusus kepada para peziarah dari Puerto Riko; orang-orang Polandia itu yang telah menyelesaikan perlombaan estafet dari Krakow ke Roma – bagus! -; dan saya memperpanjang salam ini kepada para peserta peziarahan agung Keluarga Radio Maria ke Biara Jasna Gora, sekarang dalam edisinya yang ke-25. Tetapi saya berada di sana saya juga mendengar beberapa rekan saya yang tidak hening. Orang-orang Argentina yang ada di sini, dan membuat keriuhan – [que hacen lio] – salam khusus!
 
Saya menyambut keluarga-keluarga Keuskupan Adria-Rovigo, Putri-putri Cinta Kasih dari Darah yang Mahaberharga, Ordo Teresian Sekuler, umat Limbiate dan Komunitas Misioner Yohanes Paulus II.
 
Saya mengucapkan kepada kalian semua selamat Minggu, dan sebuah hari Minggu yang panas! Jangan lupa mendoakan saya. Selamat siang dan sampai jumpa!
 
*****

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 10 Juni 2016 : PELAJARAN DARI NABI ELIA

11222408_1039524669444883_247051396995936196_n.jpgBacaan : 1Raj 19:9a,11-16; Mzm 27:7-8a,8b-9abc,13-14;Mat 5:27-32

Dalam homilinya selama Misa harian Jumat pagi 10 Juni 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus memaparkan tiga sikap yang merupakan ciri khas orang Kristen : “berdiri” di hadapan Allah dalam “keheningan” untuk mendengarkan suara-Nya dan kesiapan untuk “pergi” ke dalam dunia untuk mewartakan apa yang telah ia dengar kepada orang lain. Paus Fransiskus juga memperingatkan bahaya ketakutan yang melumpuhkan dalam kehidupan Kristen, tidak peduli di mana ia berada dalam perjalanannya bersama Allah dan terlepas dari keadaannya dalam Gereja. Read more